MOSKOW – Satelit mata-mata Rusia diduga memberikan informasi intelijen kepada Iran yang membantu meningkatkan akurasi serangan terhadap aset militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.
Informasi tersebut mencuat ketika pertempuran antara Teheran dan Washington kembali berkobar dalam beberapa waktu terakhir, dengan kedua negara saling melancarkan serangan.
Laporan media AS, CNN, yang mengutip sejumlah pejabat AS dan sumber lainnya, seperti dilansir Middle East Monitor, Kamis (17/9/2026), menyebutkan bahwa informasi yang dikumpulkan jaringan satelit Rusia kemungkinan telah dibagikan kepada Iran.
Intelijen dari Moskow tersebut diduga memberikan informasi kepada pasukan Iran mengenai lokasi dan pergerakan aset militer AS yang ditempatkan di negara-negara sekutunya di Timur Tengah.
CNN juga melaporkan bahwa satelit mata-mata Rusia, Cosmos 2573, melintas di atas sebuah pangkalan udara di Arab Saudi sekitar dua hari sebelum serangan Iran terjadi. Satelit tersebut melintas bersama 13 satelit Rusia lainnya.
Analisis CNN terhadap data orbit mengindikasikan satelit-satelit tersebut kemungkinan mengumpulkan informasi intelijen yang saling melengkapi.
Menurut laporan CNN, satelit optik dapat menyediakan citra atau gambar secara detail, sedangkan satelit intelijen sinyal mampu mendeteksi emisi radar dan radio. Sementara itu, satelit inframerah dapat mengidentifikasi jejak panas, sedangkan satelit synthetic aperture radar (SAR) mampu memantau perubahan permukaan bahkan dalam kondisi berawan dan gelap.
Nawaf Obaid dari Departemen Studi Perang di King’s College London mengatakan bantuan Rusia tersebut perlu dilihat dalam konteks kerja sama intelijen antara AS dan Ukraina.
Ia menyebut tindakan Moskow sebagai langkah balasan yang berpotensi membawa dampak signifikan terhadap arsitektur keamanan kawasan.
“Ini adalah pembalasan Rusia yang disertai ‘bunga’. Dampaknya sangat besar, tidak hanya terhadap posisi AS di kawasan tersebut, tetapi juga terhadap arsitektur keamanan kawasan itu di masa mendatang,” ujarnya.[]


