AS Setujui Penjualan 48 F-35 ke Arab Saudi, Nilainya Rp431 Triliun

JAKARTA – Amerika Serikat (AS) menyetujui rencana penjualan 48 jet tempur siluman F-35 kepada Arab Saudi dengan nilai mencapai US$24,3 miliar atau sekitar Rp431,3 triliun. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu pembelian persenjataan terbesar terbaru yang dilakukan Riyadh di tengah konflik yang melibatkan Washington dan Iran sejak akhir Februari lalu.

Arab Saudi sebenarnya telah lama mengincar pesawat tempur canggih produksi AS tersebut. Namun, rencana penjualan F-35 kepada Riyadh selama ini mendapat perhatian dari para pejabat Israel. Israel merupakan satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang saat ini mengoperasikan jet tempur siluman F-35.

“Usulan penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi dalam menangkal ancaman saat ini dan masa depan dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS,” kata Departemen Luar Negeri AS, seperti dilansir detikNews dari AFP, Jumat (18/9/2026).

Baca juga:  Wabup Aceh Besar Serahkan Cenderamata untuk Ahli Waris Panglima T Nyak Makam

Departemen Luar Negeri AS menyatakan penjualan tersebut “juga akan menambah jumlah pesawat operasional Arab Saudi dan meningkatkan kemampuan pertahanan diri udara-ke-udara dan udara-ke-darat”.

Rencana transaksi tersebut telah disampaikan Departemen Luar Negeri AS kepada Kongres. Penjualan itu masih membutuhkan persetujuan anggota parlemen AS. Pemerintah AS juga belum menjelaskan secara rinci kapan jet tempur F-35 tersebut akan dikirim ke Arab Saudi.

Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington DC menyambut keputusan tersebut. Pihak kedutaan menyatakan persetujuan penjualan itu “mencerminkan kekuatan dan ketahanan” hubungan bilateral antara Arab Saudi dan AS.

Kedutaan Besar Saudi juga menegaskan bahwa kerja sama keamanan kedua negara “telah berkontribusi pada stabilitas kawasan, memperkuat kemampuan pertahanan bersama, dan memajukan kepentingan keamanan kita bersama”.

Dalam beberapa waktu terakhir, Arab Saudi berulang kali menghadapi serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran sejak AS dan Israel memulai perang terhadap Teheran pada 28 Februari lalu. Riyadh juga menghadapi serangan dari kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.

Baca juga:  Ditreskrimsus Polda Aceh Periksa Forensik TKP Karhutla di HGU PT GSM

Situasi di Yaman yang sebelumnya relatif mereda selama beberapa tahun kembali memanas pada Juli lalu. Pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi kembali terjadi.

Houthi kemudian mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi serta melancarkan serangan terhadap kapal-kapal Saudi yang beroperasi di kawasan Laut Merah. Kelompok yang memiliki hubungan dengan Iran tersebut juga dilaporkan kembali melakukan serangan ke sejumlah wilayah Arab Saudi dalam beberapa waktu terakhir.

Meskipun AS tidak terlibat secara langsung dalam konflik tersebut, seorang pejabat Washington menyebutkan pada awal pekan ini bahwa satuan tugas militer AS tengah berupaya memperkuat pertukaran informasi intelijen dan memberikan dukungan perencanaan kepada pasukan Arab Saudi.[]

Berita Populer

Berita Terkait