Gerindra Buka Pintu Koalisi dengan PDI-P untuk Pilpres 2029

JAKARTA – Partai Gerindra membuka peluang bekerja sama dengan PDI-P dalam menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Juru Bicara Gerindra Sugiat Santoso mengatakan, partainya membuka pintu bagi seluruh kekuatan politik untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan rakyat.

“Gerindra membuka pintu selebar-lebarnya kepada kekuatan politik mana pun dalam konteks 2029 untuk katakanlah bersama-sama, berjuang bersama terkait dengan memperjuangkan kepentingan rakyat,” ujar Sugiat saat dihubungi, Kamis (17/9/2026).

Menurut Sugiat, peluang kerja sama tersebut juga terbuka dalam konteks Pilpres 2029, termasuk dengan PDI-P.

“Apakah nanti dalam konteks Pilpres dan lain sebagainya, Gerindra membuka peluang. Bahkan dengan PDI-P sekalipun,” sambungnya.

Meski demikian, Sugiat menegaskan bahwa Gerindra hingga kini belum melakukan kalkulasi politik untuk menghadapi Pilpres 2029. Menurut dia, jajaran partainya masih fokus mendukung berbagai program dan kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau kita sekarang, kalau dalam konteks hitung-hitungan politik belum ada. Karena kan kita sekali lagi, kita sekarang kan sedang betul-betul fokus untuk mendukung segala program dan kebijakan Bapak Prabowo Subianto yang terkait dengan hajat hidup rakyat,” ungkapnya.

Sugiat mengatakan, Gerindra bersama partai koalisi lainnya memang tengah melakukan pembicaraan politik. Namun, pembahasan tersebut baru sebatas bertukar pikiran mengenai penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu.

“Walaupun di internal kami, kalau kemarin kita ikuti perkembangannya, dalam konteks politik, kita sedang bersama dengan partai koalisi lainnya menyiapkan Rancangan Undang-Undang Pemilu,” kata Sugiat.

Baca juga:  Dua Gempa Guncang Gayo Lues Beruntun, Selisih Waktu Hanya Semenit

Dia memastikan pembahasan RUU Pemilu tersebut belum masuk pada tahap pemetaan kandidat untuk kontestasi Pilpres 2029.

“Tapi itu belum dalam konteks memetakan secara person to person terkait dengan kontestasinya. Ini sedang menyiapkan rancangan undang-undangnya dulu,” jelasnya.

Sugiat juga menilai pembicaraan mengenai Pilpres 2029 masih terlalu dini untuk dilakukan.

“Ya masih terlalu jauh,” katanya.

Di sisi lain, Sugiat menyebut Prabowo memiliki pandangan untuk menyatukan berbagai kekuatan politik dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat.

“Tapi tetap saja Bapak Prabowo kan secara budaya politiknya bisa kita lihat beliau sangat ingin misalnya mempersatukan semua pihak, apalagi terkait dengan urusan masa depan rakyat,” jelas Sugiat.

Keakraban Prabowo-Pramono di LRT

Pernyataan Sugiat mengenai peluang kerja sama dengan PDI-P tersebut disampaikan setelah momen keakraban Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam peresmian LRT rute Kelapa Gading-Manggarai, Jakarta, Rabu (16/9/2026). Jalur LRT tersebut memiliki panjang 12,2 kilometer.

Sebelum peresmian, Prabowo dan Pramono menjajal perjalanan dari Stasiun Kelapa Gading menuju Stasiun Manggarai. Keduanya berada dalam satu gerbong bersama sejumlah pejabat serta penumpang, termasuk pelajar dan penyandang disabilitas.

Selama perjalanan sekitar 28 menit, Prabowo dan Pramono terlihat berbincang dan bercanda.

Baca juga:  Wabup Aceh Besar Serahkan Cenderamata untuk Ahli Waris Panglima T Nyak Makam

Keakraban keduanya juga terlihat dalam pidato Prabowo saat meresmikan rute LRT tersebut. Prabowo sempat menyoroti kemiripan nama Pramono Anung Wibowo dengan namanya.

“Yang saya hormati Gubernur DKI Jakarta sebagai penyelenggara ya Saudara Pramono Anung Wibowo. Ada Wibowo-nya. Ada Bowo-nya. Orang baik. Ada Pra-nya juga. Pramono, Prabowo,” ujar Prabowo.

Prabowo juga memuji Pramono sebagai kepala daerah yang hebat. Dia mengatakan tidak segan mengakui kinerja kepala daerah yang dinilainya baik meskipun berasal dari partai berbeda.

“Intinya selamat, terima kasih gubernur. Saya harus akui, kalau ada gubernur yang hebat ya saya akui dia hebat, wakil gubernur, walaupun bukan dari partai saya,” kata Prabowo.

Namun, Sugiat menegaskan keakraban Prabowo dan Pramono dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari tugas pemerintahan dan bukan agenda politik.

“Pertemuan itu tugas, sebagai tugas. Sebagai Presiden dan sebagai Gubernur yang dalam satu kegiatan bersama peresmian LRT. Dan walaupun secara personal memang keduanya juga sudah sangat dekat lama,” ujar Sugiat.

Dia menegaskan, pertemuan tersebut tidak serta-merta dapat ditafsirkan sebagai bagian dari agenda politik.

“Jadi tidak bisa ditafsirkan bahwa ada agenda politik di pertemuan tersebut. Itu sebagai sebuah bentuk kerja bersama saja,” pungkasnya.[]

Berita Populer

Berita Terkait