JAKARTA – Pusat data untuk kecerdasan buatan (AI) semakin mendapat sorotan karena menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Selain polusi udara dan sesekali pembuangan air limbah yang mengandung bakteri, pusat data juga disebut berkontribusi terhadap meningkatnya penggunaan dan pembuangan bahan kimia abadi atau forever chemicals, yakni zat buatan yang sulit terurai secara alami.
Menurut laporan terbaru The Guardian, hampir seluruh dari 10 produsen bahan kimia abadi terbesar di dunia, yang dikenal sebagai zat perfluoroalkil dan polifluoroalkil (PFAS), berencana meningkatkan kapasitas produksinya seiring pesatnya pembangunan pusat data.
Permintaan terhadap PFAS disebut terus meningkat karena zat tersebut digunakan dalam berbagai komponen pusat data. PFAS antara lain terdapat pada sistem pendingin, chip AI, papan sirkuit, sistem pemadam kebakaran, serta pelapis ribuan kilometer kabel yang digunakan untuk menghubungkan berbagai komponen.
Meski komponen yang mengandung PFAS digunakan di berbagai sektor industri, penggunaannya pada pusat data menjadi perhatian karena fasilitas tersebut beroperasi hampir tanpa henti, kecuali saat menjalani pemeliharaan. Kondisi tersebut membuat sejumlah komponen mengalami keausan dan harus diganti secara berkala.
Ketika komponen lama dibuang, PFAS berpotensi masuk ke lingkungan dan mencemari rantai makanan. Zat tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh manusia setelah mengonsumsi makanan atau produk hewani yang terkontaminasi. Paparan PFAS juga telah dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan.
“Rencana ekspansi perusahaan-perusahaan ini menunjukkan bahwa, kecuali jika pemerintah dan regulator mendesak adanya penghapusan secara cepat, kita akan menghadapi gelombang pasang baru dari bahan kimia abadi,” kata Anne-Sofie Bäckar, Direktur Eksekutif lembaga pengawas bahan kimia Swedia, ChemSec.
PFAS bukan satu-satunya limbah yang menjadi perhatian di tengah pesatnya pembangunan pusat data AI. Gothamist melaporkan hampir 5.000 galon bahan bakar diesel tumpah dari pusat data Equinix di Secaucus, New Jersey, dan mengalir ke salah satu anak sungai di kawasan New Jersey Meadowlands.
Direktur Eksekutif Climate Revolution Action Network, Ben Dziobek, mengatakan insiden tersebut menunjukkan bahwa dampak pusat data dapat meluas hingga ke luar area fasilitas.
“Menyerahkan urusan ini ke masing-masing kota sama sekali tidak masuk akal. Pusat data menciptakan masalah yang tidak berhenti pada batas-batas wilayah administrasi kota, entah itu berupa polusi atau pembebanan jaringan listrik yang pada akhirnya akan melonjakkan tagihan listrik semua orang,” katanya, dikutip detikINET dari Futurism.[]


