JAKARTA – Obat inovatif sering kali dianggap lebih mahal dibandingkan obat generik. Namun, harga obat yang lebih tinggi tidak selalu berarti biaya pengobatan secara keseluruhan juga lebih besar. Dalam kondisi tertentu, penggunaan obat yang tepat dan efektif dapat menekan risiko komplikasi sehingga pasien terhindar dari perawatan lanjutan yang lebih kompleks.
Honorary Secretary International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG), Idham Hamzah, menjelaskan bahwa biaya pengobatan tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan harga obat pada awal terapi, tetapi juga perlu mempertimbangkan manfaat yang diperoleh pasien dalam jangka panjang.
“Obat inovatif memang lebih mahal dibandingkan obat generik berbiaya rendah. Namun, mekanisme kerjanya berbeda. Keunggulan obat inovatif adalah kemampuannya untuk menghindari biaya-biaya yang berlebihan,” ujar Idham dalam diskusi bersama media bertajuk IPMG Mendorong Akses Obat Inovatif di Indonesia Melalui Value-Based Healthcare di Jakarta, Rabu (15/10/2026).
Obat yang Tepat Bisa Menurunkan Risiko Komplikasi
Idham mencontohkan pasien yang pernah mengalami serangan jantung. Penggunaan obat yang tepat dan terbukti efektif dapat membantu menurunkan risiko serangan berulang.
Apabila risiko tersebut dapat ditekan, pasien berpotensi terhindar dari perawatan lanjutan, seperti rawat inap, perawatan di unit perawatan intensif (intensive care unit/ICU), tindakan medis, hingga rehabilitasi yang membutuhkan biaya jauh lebih besar.
Menurut Idham, pendekatan ini sejalan dengan konsep value-based healthcare, yaitu sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada hasil pengobatan dan manfaat bagi pasien, bukan semata-mata pada biaya yang dikeluarkan.
“Obat inovatif bisa menjadi investasi yang baik apabila kita menghitung biaya penggunaan obat dibandingkan dengan biaya rawat inap dan perawatan lain yang mungkin timbul jika obat tersebut tidak digunakan,” jelasnya.
Meski demikian, potensi penghematan tersebut perlu dibuktikan melalui kajian yang mempertimbangkan manfaat klinis dan keseluruhan biaya pengobatan.
Dampak Penyakit Juga Memengaruhi Produktivitas
Beban akibat penyakit tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan medis. Pasien yang harus menjalani perawatan berulang juga berisiko kehilangan waktu produktif untuk bekerja.
Tantangan lain dihadapi pasien yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan rujukan. Sebagai contoh, pasien kanker dari kota kecil mungkin harus bepergian ke kota besar untuk mendapatkan pengobatan. Biaya perjalanan dan kebutuhan pendampingan keluarga juga menjadi pengeluaran yang perlu diperhitungkan.
Menurut Idham, kondisi geografis Indonesia membuat pengeluaran di luar tindakan medis menjadi aspek penting dalam menilai beban pengobatan pasien.
HTA Diperlukan untuk Menilai Manfaat Obat
Direktur Eksekutif IPMG, Ani Rahardjo, menjelaskan bahwa manfaat obat inovatif perlu dinilai secara ilmiah sebelum menjadi bagian dari pembiayaan kesehatan nasional. Salah satu instrumen yang digunakan adalah Health Technology Assessment (HTA) atau Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK).
Penilaian ini digunakan untuk mengukur manfaat klinis dan ekonomi suatu terapi, termasuk menilai apakah manfaatnya sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
“Akses pasien terhadap obat-obatan inovatif merupakan bagian penting dalam transformasi menuju Value-Based Healthcare, guna memastikan pasien memperoleh terapi terbaik sekaligus menjaga keberlanjutan JKN,” ujar Ani.
Ia menjelaskan bahwa penilaian tersebut penting agar keputusan pembiayaan tidak hanya didasarkan pada harga atau status obat sebagai produk inovatif, tetapi juga pada bukti manfaatnya bagi pasien.
Menurut Ani, terdapat delapan pengajuan kajian HTA dari tujuh perusahaan anggota IPMG melalui mekanisme stakeholder-led submission. Pengajuan tersebut selanjutnya ditinjau oleh pihak berwenang.
Namun, pelaksanaan HTA membutuhkan investasi besar dan tidak menjamin obat yang dinilai akan langsung masuk dalam pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Ani juga mengakui bahwa kajian komprehensif mengenai penghematan biaya untuk berbagai penyakit masih perlu dikembangkan. Hasil kajian yang tersedia dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis obat dan penyakit yang ditangani.
Tidak Semua Pasien Membutuhkan Obat Inovatif
Meski obat inovatif berpotensi menghemat biaya perawatan lainnya, Idham mengingatkan bahwa obat tersebut tidak harus diberikan kepada semua pasien. Pemilihan terapi perlu mempertimbangkan kondisi penyakit, kebutuhan pengobatan, serta pedoman klinis yang berlaku.
“Bukan semua pasien harus diberikan obat inovatif. Itu juga tidak berkelanjutan, karena nantinya bisa menyebabkan defisit anggaran,” kata Idham.
Obat generik dan terapi lain yang tersedia tetap memiliki peran sesuai dengan kebutuhan pasien. Oleh karena itu, dokter dan tenaga kesehatan perlu menentukan kelompok pasien yang berpotensi memperoleh manfaat dari terapi inovatif.
“Untuk mendukung ini, IPMG turut menjalankan program edukasi bagi dokter, perawat, dan apoteker mengenai penggunaan obat inovatif serta pemilihan pasien yang tepat,” pungkas Idham.[]


