BI Dorong Transaksi Mata Uang Lokal, Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS

JAKARTA – Bank Indonesia mendorong perluasan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam perdagangan dan investasi. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi kawasan di tengah ketidakpastian global sekaligus mengurangi ketergantungan uang negara ketiga.

Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam rangkaian Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank). Pertemuan ini mencakup pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara G20 (FMCBG), yang berlangsung pada 12-18 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand.

Dalam kesempatan itu juga, Destry mendorong penguatan ketahanan ekonomi juga memerlukan sistem keuangan digital yang inovatif dan terpercaya.

Selain itu, Bank Indonesia juga mendukung peta jalan G20 untuk pembayaran lintas negara agar transaksi menjadi lebih cepat, murah, transparan, dan mudah diakses.

“Kami mendukung peta jalan G20 untuk pembayaran lintas negara agar transaksi menjadi lebih cepat, murah, transparan, dan mudah diakses. Perbaikan ini akan memberi manfaat bagi dunia usaha, memfasilitasi perdagangan internasional, serta mendorong inklusi keuangan,” tutur Destry dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10/2026).

Baca juga:  Baitul Mal Aceh Besar Perkuat Kemitraan dengan Islamic Relief Indonesia

Sejalan dengan upaya tersebut, Bank Indonesia mendorong pembayaran QR lintas negara dan transaksi mata uang lokal untuk meningkatkan efisiensi pembayaran, mendukung perdagangan, dan memperluas inklusi keuangan.

Di dalam negeri, Bank Indonesia juga memperluas manfaat digitalisasi keuangan melalui penggunaan QRIS oleh generasi muda dan UMKM untuk membangun rekam jejak transaksi digital dan meningkatkan akses ke pembiayaan formal.

Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dalam pertemuan IMF-World Bank menyepakati Agenda Kebijakan Global (Global Policy Agenda) untuk memperkuat ketahanan ekonomi dunia.

Agenda ini mencakup pemeliharaan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, perbaikan iklim usaha dan modernisasi pasar tenaga kerja untuk mendukung pertumbuhan sektor swasta, serta pemanfaatan AI dan digitalisasi yang didukung investasi pada infrastruktur digital dan energi berkelanjutan.

Baca juga:  Brigjen TNI Mahesa Fitriadi Resmi Jabat Pangdam Iskandar Muda

Kerja sama internasional juga diperlukan untuk mengatasi ketidakseimbangan global, mengelola kerentanan utang, dan menjaga kelancaran perdagangan. Selain itu, IMF menekankan penguatan jaring pengaman keuangan global, penyediaan pembiayaan sesuai kebutuhan negara anggota, serta reformasi kuota dan tata kelola IMF.

Pembahasan berlanjut dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 menyoroti penguatan kerja sama internasional untuk membangun sektor keuangan yang inovatif dan berdaya tahan.

Sejalan dengan prioritas Presidensi G20 Amerika Serikat, pembahasan mencakup peningkatan efektivitas regulasi dan pengawasan, penyederhanaan regulasi, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Pertemuan ini juga menandai serah terima Presidensi G20 Finance Track dari Amerika Serikat kepada Inggris.

Ke depan, Bank Indonesia bersama Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan otoritas global untuk bersama menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.[]

Berita Populer

Berita Terkait