KOTA JANTHO – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) dan Gelar Karya Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang dikemas dalam Piasan Aceh Rayeuk berlangsung meriah di halaman Kantor Camat Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 12-15 Oktober 2036 dengan melibatkan siswa-siswi tingkat SD dan SMP tersebut resmi ditutup oleh Asisten I Sekdakab Aceh Besar, Farhan AP, pada Kamis (15/10/2026) sore.
Mewakili Bupati Aceh Besar, Farhan AP menegaskan bahwa FTBI dan GSMS merupakan bagian dari upaya nyata dan berkelanjutan untuk melestarikan bahasa daerah sekaligus mengembangkan kreativitas seni generasi muda.
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Besar selama empat hari itu menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengenal, menampilkan, dan mengembangkan potensi bahasa serta seni budaya daerah.
Dalam sambutannya, Farhan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia juga mengajak para pemangku kepentingan untuk terus bersinergi dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya Aceh.
“Kami mengucapkan terima kasih dan mengharapkan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) agar terus mendukung segala kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan seni dan budaya,” kata Farhan.
Menurutnya, festival semacam ini tidak hanya menjadi ajang penampilan dan kompetisi, tetapi juga sarana menumbuhkan minat serta motivasi generasi muda untuk aktif menjaga tradisi dan mengembangkan kebudayaan lokal.
Farhan menambahkan, pelestarian bahasa dan seni budaya merupakan tanggung jawab bersama. Warisan para indatu dan leluhur harus terus dijaga agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
“Hal ini sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk terus menjaga serta melestarikan budaya dan mencintai tanah kelahiran Aceh Besar. Sudah sepatutnya kita memelihara warisan para indatu dan leluhur, yaitu seni dan budaya yang bernilai estetika tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Disdikbud Aceh Besar, M. Isa, S.E., M.Si., Ak., mengapresiasi keberhasilan penyelenggaraan FTBI dan GSMS tahun ini. Ia menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menjadikan pengembangan bahasa daerah dan seni budaya sebagai bagian penting dari pembinaan peserta didik di sekolah.
Menurut M. Isa, FTBI dan GSMS memiliki peran strategis dalam membangun karakter anak sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah derasnya arus digitalisasi.
“Ajang FTBI dan GSMS bukan sekadar pementasan atau perlombaan biasa, melainkan benteng pertahanan karakter anak-anak kita di tengah pesatnya arus digitalisasi.
Kami di Dinas Pendidikan sangat mendukung penguatan muatan lokal ini agar anak-anak Aceh Besar bangga menggunakan bahasa ibunya serta memahami akar budayanya sendiri,” ungkap M. Isa.
Ia juga menyampaikan bahwa Disdikbud Aceh Besar tengah mengkaji formulasi program penerapan penggunaan bahasa daerah secara berkala di lingkungan sekolah.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat pembiasaan berbahasa daerah sekaligus mendukung pelestarian bahasa ibu melalui dunia pendidikan.
M. Isa berharap kepala sekolah dan guru pendamping terus membina bakat seni serta kemampuan berbahasa daerah para siswa secara konsisten. Dengan demikian, pembinaan tidak berhenti setelah festival berakhir, tetapi berlanjut dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, menyampaikan bahwa FTBI tingkat Provinsi Aceh telah memasuki penyelenggaraan keempat, sedangkan di Kabupaten Aceh Besar kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk ketiga kalinya.
“Merupakan kewajiban Balai Bahasa untuk melestarikan dan menjaga bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa daerah,” terangnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Cut Jarita, S.Pd., melaporkan bahwa rangkaian FTBI dan Gelar Karya GSMS berlangsung selama empat hari dengan melibatkan siswa-siswi jenjang SD dan SMP dari seluruh Kabupaten Aceh Besar.
Ia turut menyampaikan terima kasih kepada Balai Bahasa Provinsi Aceh, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Aceh, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan berjalan lancar.
Penutupan Piasan Aceh Rayeuk yang merangkai FTBI dan GSMS tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga bahasa ibu dan mengembangkan kreativitas seni pelajar.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, generasi muda Aceh Besar diharapkan semakin bangga terhadap identitas budaya daerah dan mampu mewariskannya kepada generasi berikutnya.[]


