Usai Menyeberangi Laut ke Spanyol, 48.000 Migran Justru Putuskan Pulang, Ini Sebabnya

JAKARTA – Sejumlah migran yang berenang atau melompati pagar perbatasan untuk masuk ke Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara, memilih kembali ke Maroko. Padahal, mereka sebelumnya rela menempuh perjalanan berbahaya demi memasuki wilayah Spanyol dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik di Eropa.

Berdasarkan laporan Reuters, Sabtu (1/8/2026), para migran mulai kembali ke Maroko pada hari yang sama. Mereka mengaku kelaparan, kelelahan, serta menghadapi permusuhan dari sebagian warga setempat setelah tiba di Ceuta. Kondisi tersebut membuat harapan mereka untuk memulai kehidupan baru di Eropa pupus.

Keputusan ribuan migran menuju Ceuta dipicu oleh video-video viral di media sosial. Mereka juga menerima informasi dari teman yang menyebut perbatasan Ceuta yang selama ini dijaga ketat bisa ditembus. Kabar tersebut mendorong ribuan orang berbondong-bondong menuju perbatasan dan mencoba memasuki wilayah Spanyol dengan berenang maupun melompati pagar.

Salah satunya Brahim, pekerja toko roti asal Fez, Maroko. Ia mengaku meninggalkan pekerjaannya setelah melihat video yang memperlihatkan ribuan orang melakukan hal serupa. Brahim berharap dapat membangun kehidupan yang lebih baik di Eropa, namun kenyataan yang ditemuinya jauh berbeda dari ekspektasi.

“Kami datang untuk meraih kemajuan, bukan untuk dibodohi. Saya pikir saya akan membangun masa depan yang lebih baik di sana. Tapi saya terkejut di Ceuta. Bagaimana mungkin sandwich tuna dijual seharga 100 dirham (sekitar Rp491.000)?” ujarnya.

Brahim mengaku hanya bertahan hidup dengan minum air selama tiga hari karena tidak mampu membeli makanan yang harganya sangat mahal. Pengalaman serupa juga dialami migran lain yang mengeluhkan banyak supermarket dan toko tutup sehingga kesulitan memperoleh makanan maupun air.

Baca juga:  Mensos Buka MPLS Sekolah Rakyat Gelombang Kedua Serentak di 65 Titik

Seorang pekerja di Pelabuhan Tanger Med, Maroko, yang ikut menyeberang ke Ceuta bahkan menggambarkan kondisi wilayah tersebut seperti penjara.

“Ceuta seperti penjara, tidak ada yang bisa dilakukan di sana. Semuanya tutup,” katanya.

Selain kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, sebagian migran mengaku menghadapi permusuhan dari warga setempat. Mereka menuduh penduduk di El Principe, kawasan yang mayoritas dihuni warga keturunan Maroko di Ceuta, menyerang atau mengusir mereka. Namun, tuduhan tersebut belum dapat diverifikasi.

Salah seorang migran asal Maroko, Yassine Ichou, mengaku dipukul dan dipaksa meninggalkan kawasan tersebut.

“Mereka melakukan pengepungan untuk memaksa kami meninggalkan Ceuta sendiri. Mereka berhasil dalam rencana mereka,” kata Ichou.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan dua orang mengalami luka ringan akibat serangan pisau dalam dua insiden terpisah dan polisi telah menangkap salah satu pelaku. Namun, otoritas menegaskan tidak ada korban jiwa akibat serangan pisau yang tercatat di Ceuta sejak Kamis (30/7/2026).

Mengapa Ceuta menjadi tujuan migran?

Dilansir dari The Guardian, Jumat (31/7/2026), Ceuta dan Melilla merupakan dua wilayah Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Benua Afrika. Ceuta berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak 1580 dan dihuni oleh masyarakat Kristen maupun Muslim.

Meski kehidupan masyarakat Spanyol, Maroko, dan para pekerja lintas batas berlangsung relatif harmonis, Maroko tidak mengakui Ceuta dan Melilla sebagai wilayah Spanyol dan menganggap keduanya sebagai wilayah pendudukan.

Baca juga:  Pemko Lhokseumawe Perpanjang Masa Kerja PPPK, Evaluasi Dilaksanakan Tiga Bulan Ke Depan

Karena menjadi salah satu pintu masuk menuju Eropa, Ceuta dan Melilla memiliki sistem pengamanan perbatasan yang sangat ketat. Banyak migran yang berhasil mencapai kedua wilayah itu langsung dipulangkan, sementara sebagian lainnya ditempatkan di pusat penampungan sembari mengajukan permohonan suaka.

Untuk mencapai Ceuta, para migran umumnya berenang sekitar lima kilometer dari Kota Fnideq, Maroko. Sebagian lainnya mencoba menyeberang dari Kota Belyounech yang letaknya lebih dekat.

Terjebak di Ceuta

Setelah berhasil memasuki Ceuta, para migran ternyata tidak menemukan cara untuk melanjutkan perjalanan menuju daratan utama Spanyol. Selain kesulitan mendapatkan makanan dan tempat bertahan, mereka juga terjebak di wilayah tersebut sehingga banyak yang akhirnya memutuskan kembali ke Maroko.

Di tengah kekhawatiran warga, muncul pula rasa simpati terhadap para migran. Tito, pemilik toko perkakas di Ceuta, mengatakan kedatangan puluhan ribu orang secara tiba-tiba memang membuat masyarakat cemas. Namun, ia menilai para migran telah menjadi korban eksploitasi.

“Anda merasa kewalahan dan, pada saat yang sama, tak berdaya. Para pemuda itu benar-benar dieksploitasi. Mereka digunakan sebagai alat tawar-menawar,” katanya.

Meski demikian, tidak semua migran memilih menyerah. Mohamed Ahmed, pria asal Sudan berusia 43 tahun, mengaku diturunkan bersama sejumlah migran lain di dekat perbatasan sebelum berenang selama sekitar empat jam menuju Ceuta.

Ahmed mengatakan polisi menghalangi mereka menuju pusat migrasi. Namun, ia tetap bertekad bertahan di Spanyol.

“Aku tidak akan kembali. Aku lebih memilih mati mencoba di sini,” tegasnya.[]

Berita Populer

Berita Terkait