JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghentikan sementara serangan udara terhadap Iran, sehingga negara tersebut kembali melewati malam tanpa pemboman pada Minggu (26/7/2026).
Pada saat yang sama, tidak ada laporan mengenai serangan balasan Iran terhadap negara-negara di kawasan yang menjadi lokasi aset militer AS sepanjang akhir pekan. Jeda operasi militer ini dilakukan di tengah laporan menipisnya persediaan amunisi pertahanan AS serta meningkatnya kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah, sebagaimana dilaporkan France24.
Laporan The New York Times, yang mengutip dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut, menyebutkan bahwa rencana untuk meningkatkan kampanye militer ditunda sebagian karena berkurangnya stok persenjataan, termasuk rudal pencegat Patriot.
Selain keterbatasan amunisi, Trump juga dihadapkan pada risiko meluasnya perang di Timur Tengah, potensi renggangnya hubungan dengan sekutu-sekutu di kawasan Teluk, serta ancaman terhadap stabilitas ekonomi global.
Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat (24/7/2026), Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine sama-sama menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi eskalasi konflik.
Menurut laporan CNN, Caine menjelaskan bahwa militer AS mampu menjalankan berbagai opsi serangan yang tersedia, namun ia memperingatkan adanya konsekuensi besar yang dapat ditimbulkan.
Media Axios juga melaporkan bahwa Pentagon sempat mengajukan rencana serangan pada malam ke-14 konflik kepada Trump. Namun, presiden memilih tidak memberikan persetujuan dan lebih mengutamakan jalur diplomasi. Di sisi lain, perang yang sebelumnya diperkirakan Trump hanya berlangsung empat hingga lima pekan kini disebut mulai membebani tingkat persetujuan publik terhadap Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS pada November 2026.
Meski operasi militer AS terhadap Iran untuk sementara dihentikan, Trump menegaskan belum mengambil keputusan akhir terkait kelanjutan operasi tersebut. Ia mengatakan pemerintah AS masih melakukan komunikasi dengan Teheran.
“Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius,” ujar Trump kepada wartawan pada Jumat.
Trump juga menegaskan bahwa Iran dihadapkan pada dua pilihan, yakni mencapai kesepakatan dengan Washington atau menghadapi serangan militer yang lebih besar.
“Iran menghadapi pilihan antara kesepakatan dan serangan pada tingkat yang jauh lebih tinggi,” tegasnya.
Sementara itu, menjelang kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington, militer Iran melontarkan peringatan keras. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengatakan Teheran akan memperluas cakupan perang di Timur Tengah apabila Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara.
“Saya percaya bahwa jika Amerika sekali lagi tertipu oleh tipu daya Zionis, atau bergerak sejalan dengan mereka, dan bersikeras untuk melanjutkan perang, khususnya melalui serangan udara, secara geografis ini akan meluas lebih jauh,” ujar Akraminia kepada stasiun televisi pemerintah, Minggu.
Sebelum jeda serangan diberlakukan, pertempuran sempat berkecamuk di Selat Hormuz yang strategis dan menggagalkan berbagai upaya diplomatik antara Washington dan Teheran. Konflik kemudian meluas melampaui koridor energi vital tersebut, mencakup serangan terhadap pangkalan militer AS, jalur pelayaran regional, serta sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.[]


