Mengutip Harvard Health Publishing, Rabu (21/10/2026), kelupaan sesekali dapat dialami oleh orang dari berbagai kelompok usia. Namun, penting untuk memahami perbedaan antara kelupaan yang masih tergolong normal dan gangguan ingatan yang dapat mengarah pada demensia, termasuk penyakit Alzheimer.
Penyebab Seseorang Mudah Lupa
Ahli neurologi dari Harvard Medical School, Dr. Andrew Budson, menjelaskan bahwa lupa tujuan ketika memasuki sebuah ruangan tidak serta-merta menjadi tanda seseorang mengidap Alzheimer.
“Hal itu terjadi karena kita terdistraksi atau sedang memikirkan hal lain, lalu kita lupa mengapa kita masuk ke ruangan tersebut sampai kembali ke tempat semula. Jangan khawatir tentang hal itu,” ujarnya.
Menurut Budson, lobus frontal pada otak berperan dalam mengumpulkan informasi dari aktivitas sehari-hari dan membantu seseorang mengingatnya kembali ketika dibutuhkan. Seiring bertambahnya usia, fungsi bagian otak tersebut dapat mengalami perubahan sehingga seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengingat informasi tertentu.
Selain faktor penuaan, stres, kelelahan, kurang tidur, gangguan suasana hati, serta konsumsi obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan mengingat.
Kelupaan yang masih tergolong normal, misalnya, terjadi ketika seseorang lupa nama atau detail tertentu untuk sementara waktu, tetapi akhirnya mampu mengingatnya kembali. Budson menjelaskan bahwa dalam proses penuaan normal, informasi yang telah tersimpan dalam ingatan umumnya masih dapat dipanggil kembali, meskipun membutuhkan waktu lebih lama atau petunjuk tertentu.
“Selama informasi tersebut sudah masuk ke dalam ingatan sejak awal, informasi itu seharusnya masih dapat diingat kembali, meskipun membutuhkan sedikit waktu, petunjuk, atau isyarat,” ujarnya.
Tanda Lupa yang Perlu Diwaspadai
Berbeda dengan kelupaan biasa, penyakit Alzheimer dapat merusak hipokampus, yaitu bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan dan pengambilan kembali ingatan. Kerusakan tersebut berkaitan dengan perubahan patologis di otak, termasuk penumpukan protein abnormal berupa plak amiloid dan kekusutan protein tau.
Kondisi ini dapat menyebabkan penderita mengalami kesulitan mengingat informasi, bahkan setelah informasi tersebut diulang atau diberikan petunjuk.
“Pada penyakit Alzheimer, bahkan ketika informasi diulang atau seseorang diberikan petunjuk, informasi tersebut tidak dapat diingat kembali,” ujar Budson.
Sejumlah tanda lain yang perlu diperhatikan antara lain mengulang pertanyaan atau cerita dalam percakapan yang sama, tersesat di rute yang sudah dikenal, serta mengalami kesulitan merencanakan atau menyelesaikan masalah.
Perubahan kemampuan dalam melakukan aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan, kesulitan menemukan kata saat berbicara atau menulis, hingga perubahan suasana hati dan kepribadian juga dapat menjadi tanda gangguan yang lebih serius.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Budson menyarankan seseorang untuk berkonsultasi dengan dokter apabila gangguan ingatan berlangsung terus-menerus, semakin memburuk, atau mulai menghambat aktivitas sehari-hari.
Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menentukan penyebab gangguan ingatan sekaligus memberikan kesempatan untuk memperoleh penanganan yang sesuai. Jika gangguan ingatan disebabkan oleh Alzheimer, sejumlah terapi yang tersedia dapat membantu memperlambat penurunan fungsi kognitif pada pasien tertentu.
“Semakin dini pengobatan dimulai, semakin efektif hasilnya karena pengobatan tersebut dapat memperlambat penurunan fungsi,” ujarnya.
Sering lupa tidak serta-merta berarti seseorang mengalami Alzheimer. Namun, kelupaan yang menetap, semakin memburuk, atau disertai perubahan kemampuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan medis.[]


