Perusahaan Induk Truth Social Milik Trump Tekor Besar Rp6,95 T

JAKARTA – Perusahaan induk Truth Social, platform media sosial milik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tekor alias rugi hingga Rp7 triliun.

Induk Truth Social, Trump Media & Technology Group (TMTG), melaporkan kerugian bersih lebih dari US$400 juta atau sekitar Rp6,95 triliun (asumsi kurs Rp17.377) pada kuartal I 2026. Kerugian TMTG terutama gara-gara anjloknya valuasi mata uang kripto. Perusahaan melaporkan pendapatan kurang dari US$1 juta atau Rp17,4 miliar per Maret.

Trump mengendalikan sekitar 41 persen saham TMTG yang ditempatkan dalam trust untuk mengelola kepentingan keuangannya selama masa kepresidenan.

TMTG juga bergerak di sektor jasa keuangan. Tahun lalu, perusahaan mengumumkan pendanaan sebesar US$2,5 miliar atau Rp43,4 trilin untuk investasi di mata uang kripto, salah satu minat terbaru Trump.

Baca juga:  Ibas Ajak Ponpes Jadi Lembaga Menyejukkan hingga Perkuat Nilai Keislaman

Sayangnya, anjloknya nilai kripto menghantam bisnis tersebut, apalagi setelah harga Bitcoin merosot dari lebih dari US$126 ribu pada awal Oktober 2025, lalu amblas ke bawah US$70 ribu pada Maret 2026. Harga Bitcoin sejak itu sedikit pulih ke level di atas US$80 ribu.

Karena perusahaan wajib mengungkapkan nilai investasinya meski belum menjual aset tersebut, TMTG pun membukukan kerugian sebesar US$406 juta atau setara Rp7 triliun pada kuartal pertama 2026.

“Sebagian besar kerugian tersebut berasal dari aset digital,” kata TMTG dalam laporan keuangannya dikutip AFP, Sabtu (9/5).

Baca juga:  Pertamina dan BGN Kolaborasi Olah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat

Menurut dokumen perusahaan, TMTG menghasilkan pendapatan sebesar US$900 ribu atau Rp15,7 miliar selama kuartal pertama, angka yang sangat kecil untuk perusahaan dengan valuasi pasar mencapai US$2,47 miliar atau Rp43 triliun.

Perusahaan mengatakan terus berfokus memperluas infrastruktur dan audiens untuk mempersiapkan fitur monetisasi di masa depan.

Desember 2025 lalu, TMTG mengatakan akan merger dengan perusahaan Amerika TAE yang mengembangkan teknologi fusi nuklir. Kesepakatan tersebut diperkirakan rampung pada pertengahan 2026.[]

Berita Populer

Berita Terkait