Menlu RI: Negara ASEAN Kompak Perkuat Sektor Energi dan Pangan

JAKARTA – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Sugiono memaparkan kesepakatan bersama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, 7-8 Mei 2026.

Negara anggota sepakat memperkuat ketersediaan energi dan pangan imbas konflik di Timur Tengah.

“Intinya adalah pertama: respons bersama ASEAN dalam menyikapi situasi yang terjadi di Timur Tengah yang semua merasakan, memberikan efek langsung terhadap kehidupan negara-negara di kawasan. Khususnya di sektor-sektor ekonomi, terlebih lagi di ketersediaan pangan dan energi,” ujar Sugiono dikutip dari Kontan, Sabtu (9/5/2026).

ASEAN sepakat bahwa energi dan pangan merupakan fundamental bagi negaranya masing-masing. Regional harus siap menghadapi berbagai masalah yang datang dengan kerja sama kolektif.

“Ada satu kesadaran bersama yang tumbuh bahwa dengan situasi yang terjadi saat ini perlu suatu inisiatif bersama untuk menjadikan ASEAN ini sebagai suatu wilayah yang resilient, khususnya di bidang energi dan pangan,” jelasnya.

Baca juga:  Harga Emas Antam 8 Mei 2026 Bergerak Turun Tipis

Kesepakatan di KTT ASEAN, sejalan dengan program Presiden Prabowo yang menekankan ketahanan pangan dan energi sesuatu paling mendasar bagi masyarakat Indonesia.

“Dan saya kira ini juga sesuatu yang sudah menjadi sejak awal program dari pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo, dimana ketahanan energi dan ketahanan pangan merupakan hal yang paling mendasar yang harus dipenuhi oleh sebuah negara, yang harus dipenuhi oleh negara kita,” kata Sugiono.

Dalam pernyataannya di KTT ASEAN ke-48, Presiden Prabowo Subianto menekankan diversifikasi energi bukan pilihan melainkan keharusan. “Diversifikasi energi bukan lagi pilihan. Ini sangat penting, ini perlu.

Baca juga:  Rakerwas Polda Aceh 2026, Kepala BBPOM Aceh Bahas Strategi Pengawasan Pangan

Kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melalui sumber alternatif dan kita harus mempersiapkan energi terbarukan,” kata Prabowo dikutip dari Kompas.com, Jumat (8/5/2026). Prabowo mengingatkan, jalur distribusi bahan baku pangan dan energi terganggu akibat konflik ini.

Bahkan, prediksinya dampak dari peperangan di Timur Tengah masih akan terasa meski konflik usai.

“Gangguan berkepanjangan di sepanjang jalur global utama sudah memberikan tekanan yang sangat tinggi pada situasi energi negara kita dan tekanan itu tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat,” ujar Prabowo.

Pemerintah Indonesia sudah berupaya untuk mendiversifikasi pasokan energi dan transisi ke energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan di Selat Hormuz.[]

Berita Populer

Berita Terkait