JAKARTA – Warga Iran bersorak setelah calon-calon dari Partai Republik kalah dalam pemilihan umum sela Amerika Serikat pekan ini.
Republik adalah partai yang mengusung Donald Trump menjadi calon presiden dalam pemilu 2024 lalu. Dengan kemenangan Demokrat di pemilu sela, Kongres dikuasai partai biru. Hasil tersebut juga menjadi pukulan politik telak bagi Trump di sisa dua tahun masa jabatannya.
Kekalahan Republik turut menciptakan suka cita bagi warga Iran termasuk kepala negosiator dan ketua DPR Mohammad Bagher Qalibaf.
“Warga Amerika bilang ‘TIDAK UNTUK PERANG’ dan kami mendukung pesan ini,” kata Bagher, dikutip ABC News , Kamis (5/11). Dia lalu menyebut jika pemerintah AS mengabaikan pemilihan itu untuk perubahan maka akan berujung “mimpi buruk.”
Di luar itu, warga Iran pro pemerintah menggelar demonstrasi di Teheran pada Rabu (4/11) dalam rangka memperingati pengambilalihan Kedubes Amerika Serikat 1979.
Mereka tampak mengibarkan bendera AS dan Israel serta meneriakkan slogan-slogan yang sering digemakan para demonstran. “Mati lah Amerika Serikat! Mati lah Israel!” demikian teriak mereka.
Kemarahan warga Iran ke AS dan sekutunya Israel bukan tanpa alasan. Api murka itu kian membara usai kedua negara itu menggempur habis-habisan Iran pada akhir Februari lalu.
Imbas serangan brutal itu, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta pejabat top pertahanan Iran lain tewas.
Iran tak tinggal diam. Mereka membalas serangan hingga menutup Selat Hormuz. AS dan Iran pun hingga kini masih bertempur meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata serta nota kesepahaman untuk mengakhiri perang.[]


