JAKARTA – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membalas serangan terbaru Amerika Serikat dengan menggempur pangkalan-pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk, Kamis (11/6/2026) dini hari. Sebelumnya, AS melancarkan serangan ke beberapa wilayah di Iran, yang sebagian besar berada di kawasan pesisir Selat Hormuz.
Kantor berita Tasnim, mengutip pernyataan IRGC, melaporkan bahwa Angkatan Udara dan Angkatan Laut Iran menggelar operasi serangan dalam dua gelombang terhadap pasukan AS di kawasan tersebut.
Serangan itu menargetkan 18 instalasi penting yang berada di pangkalan-pangkalan militer yang menampung pasukan Amerika Serikat.
IRGC tidak menyebutkan secara rinci negara-negara Teluk atau wilayah Timur Tengah yang menjadi sasaran serangan terbaru. Namun, pada Rabu (10/6/2026), IRGC dilaporkan telah menggempur 22 target militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Tak lama setelah serangan tersebut, Kementerian Dalam Negeri Bahrain meminta warga tetap tenang dan segera menuju lokasi perlindungan terdekat. Bahrain diketahui menjadi markas Armada Ke-5 Angkatan Laut Amerika Serikat.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi militernya sebagai tindakan pertahanan diri yang dilakukan sebagai “tanggapan terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan”.
Akibat serangan terbaru AS, sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm di Teluk Hormuz, serta di beberapa kota lainnya, termasuk Bandar Abbas, Sirik, dan Minab.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melalui akun media sosial Truth Social menuding para pemimpin Iran telah “terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan”.
Pernyataan tersebut disertai ancaman bahwa Amerika Serikat akan melancarkan serangan yang lebih keras lagi terhadap Iran, termasuk dengan menargetkan infrastruktur strategis seperti jembatan dan pembangkit listrik.
Sebagai respons, komando militer tertinggi Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz. Iran juga memperingatkan bahwa seluruh kapal yang melintas di jalur tersebut, termasuk kapal tanker minyak dan kapal kargo, dapat menjadi sasaran serangan.
Peringatan itu segera diikuti tindakan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang mengumumkan telah menyerang dua kapal tanker minyak yang dituduh melakukan pelayaran ilegal di jalur perairan strategis tersebut. []


