Obesitas pada Anak di Italia Meningkat, Diet Mediterania Mulai Ditinggalkan

JAKARTA – Italia, yang selama ini dikenal sebagai salah satu tempat lahirnya pola makan Mediterania, kini menghadapi persoalan serius berupa meningkatnya kasus obesitas pada anak.

Di sejumlah wilayah selatan negara itu, lebih dari 40 persen anak berusia 8 hingga 9 tahun mengalami kelebihan berat badan. Perubahan pola makan yang semakin menjauh dari makanan tradisional dinilai menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus tersebut.

Dilansir dari BBC pada 25 Juli 2026, salah satu gambaran kondisi itu dialami Salvatore, remaja berusia 17 tahun dengan berat badan mencapai 170 kilogram. Kondisinya membuat ia kesulitan berjalan dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Salvatore sebenarnya dijadwalkan menjalani operasi yang berpotensi mengubah hidupnya, namun prosedur tersebut belum dapat dilakukan karena berat badannya dinilai terlalu berisiko.

Salvatore bukan satu-satunya anak atau remaja di Italia yang hidup dengan obesitas. Persoalan ini semakin banyak ditemukan, terutama di wilayah selatan. Di beberapa daerah di Campania, misalnya, lebih dari 40 persen anak usia 8 dan 9 tahun mengalami kelebihan berat badan. Sementara itu, Ponticelli, kawasan pinggiran Napoli, menjadi salah satu wilayah dengan angka obesitas anak yang tinggi.

Dokter Sonja Chiappetta, yang telah 15 tahun menangani pasien obesitas berat di Rumah Sakit Betania, Ponticelli, mengatakan usia pasien yang datang untuk berobat kini semakin muda.

“Dulu sebagian besar pasien saya berusia 50-an. Sekarang saya melihat pasien yang sama ketika mereka masih remaja, bahkan ada yang baru berusia 16 tahun. Mereka semakin muda, dan itu menakutkan,” ujarnya.

Chiappetta mengungkapkan, permintaan operasi bariatrik terus meningkat. Prosedur tersebut dilakukan dengan mengecilkan ukuran lambung hingga sekitar 90 persen agar pasien tidak dapat mengonsumsi makanan dalam jumlah besar.

Baca juga:  Kaesang Ingin Maju dari Solo pada Pileg 2029, Ganjar: Jateng Tetap Kandang Banteng

Namun, Salvatore belum memenuhi syarat untuk menjalani operasi tersebut karena kondisinya masih berisiko tinggi. Sebagai langkah awal, tim medis memberikan terapi suntikan golongan GLP-1 untuk membantu menekan nafsu makan dan menurunkan berat badan sebelum operasi dilakukan.

Meningkatnya obesitas anak menjadi perhatian karena Italia selama ini identik dengan pola makan Mediterania yang kaya akan sayuran, kacang-kacangan, minyak zaitun, biji-bijian utuh, dan ikan. Namun, menurut Direktur Longevity Institute di University of Southern California, Valter Longo, pola makan tradisional tersebut kini mulai ditinggalkan masyarakat.

“Pola makan Mediterania tradisional telah hilang. Hanya 10 persen orang Italia yang benar-benar mengikutinya,” kata Longo.

Ia menggambarkan pola makan masyarakat Italia saat ini dengan istilah “lima P”, yakni pizza, pasta, potatoes (kentang), protein, dan pane (roti). Selain itu, konsumsi makanan ultra-proses terus meningkat, sementara menu seperti pizza kini kerap disajikan dengan tambahan kentang goreng, sosis, dan berbagai makanan gorengan.

Dokter anak sekaligus spesialis obesitas dari Federico II University di Napoli, Roberto Berni Canani, mengatakan masalah obesitas pada anak juga dipengaruhi pola makan yang terbentuk sejak usia dini.

“Saya pernah menangani anak-anak yang baru berusia dua atau tiga tahun dan sudah memiliki berat badan 25 kilogram,” ujarnya.

Menurut Berni Canani, banyak orangtua tidak menyadari anak mereka mengalami kelebihan berat badan. Mereka umumnya membawa anak ke dokter karena keluhan lain, seperti batuk, sakit perut, atau diare. Padahal, persoalan utamanya terletak pada pola makan yang kurang sehat.

Baca juga:  Alphard Terobos Jalan di HI Ternyata Polisi, Polda Jabar Minta Maaf

Ia menilai obesitas bukan disebabkan oleh satu jenis makanan tertentu, melainkan akumulasi kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi kalori, minuman manis, kurangnya asupan buah dan sayuran, serta minimnya pemahaman mengenai kualitas makanan.

Lingkungan sekolah juga dinilai memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan anak. Sejumlah sekolah di Italia memiliki keterbatasan fasilitas olahraga karena masih menggunakan bangunan lama yang tidak dirancang untuk aktivitas fisik modern.

Meski demikian, sekolah dinilai tetap dapat menjadi sarana edukasi untuk menanamkan pola makan sehat sekaligus melibatkan orangtua.

Salah satu program edukasi gizi yang dijalankan di Napoli menargetkan lebih dari 17.000 siswa di 25 sekolah. Program tersebut juga memberikan pendampingan kepada keluarga agar dapat menerapkan pola makan yang lebih sehat di rumah.

Namun, seorang siswa berusia 18 tahun bernama Ciro menilai penyampaian informasi saja belum tentu mampu mengubah perilaku. Menurutnya, banyak remaja sebenarnya sudah mengetahui makanan yang sehat, tetapi belum tentu memiliki keinginan untuk menerapkannya.

Sebagai upaya mengatasi persoalan tersebut, Italia pada 2025 menjadi negara pertama yang mengesahkan undang-undang nasional yang mengakui obesitas sebagai penyakit kronis, progresif, dan dapat kambuh. Kebijakan ini menegaskan bahwa obesitas bukan semata-mata akibat pilihan gaya hidup individu, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor biologis, lingkungan, dan sosial.

Meningkatnya angka obesitas pada anak pun menjadi tantangan besar bagi Italia, seiring semakin jauhnya generasi muda dari pola makan Mediterania yang selama puluhan tahun menjadi identitas dan kebanggaan negara tersebut.[]

Berita Populer

Berita Terkait