JAKARTA – Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkapkan adanya penurunan signifikan jumlah masyarakat yang menilai kondisi politik nasional pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam keadaan baik.
Berdasarkan hasil survei terbaru, hanya 13,5 persen responden yang menilai kondisi politik saat ini baik atau sangat baik, sementara 42,8 persen menyebut kondisinya buruk atau sangat buruk.
“Yang menilai kondisi politik nasional baik atau sangat baik itu jumlahnya hanya 13,5 persen. Jadi hampir tiga kali lipat juga yang mengatakan buruk atau sangat buruk. Ini konsisten, pembelahan sikapnya dari sisi politik maupun dari sisi ekonomi,” ujar Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani dalam konferensi pers virtual, Minggu (26/7/2026).
Selain itu, sebanyak 33,6 persen responden menilai kondisi politik nasional berada dalam kategori sedang, sedangkan 10,2 persen menyatakan tidak tahu atau tidak memberikan jawaban.
Deni menjelaskan, tren penilaian positif terhadap kondisi politik terus menurun sejak November 2025. Pada periode tersebut, sebanyak 35,8 persen responden menilai kondisi politik nasional dalam keadaan baik. Angka itu kemudian turun menjadi 27,1 persen pada survei Februari–Maret 2026, dan kembali merosot menjadi 13,5 persen pada survei Juli 2026.
“Dan posisinya juga terbalik. November lebih banyak yang mengatakan baik atau positif, sekarang di bulan Juli lebih banyak yang mengatakan kondisi politik nasional negatif,” katanya.
Survei SMRC ini dilaksanakan pada 5–19 Juli 2026 dengan melibatkan warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih sebagai populasi penelitian. Sebanyak 749 responden dipilih secara acak dan diwawancarai melalui metode telepon maupun tatap muka.
Survei tersebut memiliki margin of error sebesar ±3,7 persen. Dengan demikian, perbedaan hasil baru dapat dinilai signifikan secara statistik apabila mencapai sedikitnya dua kali margin of error atau sekitar 7,4 persen.[]


