KUWAIT CITY – Kuwait menegaskan bahwa wilayah dan ruang udaranya tidak digunakan untuk melancarkan serangan terhadap negara mana pun. Pernyataan tersebut sekaligus membantah klaim Iran yang menyebut Amerika Serikat melancarkan serangan dari wilayah Kuwait.
Pemerintah Kuwait juga telah memanggil kuasa usaha Iran terkait serangan yang menyasar kawasan bandara di negara itu.
“Wakil Menteri Luar Negeri Kuwait, Hamad Suleiman Al-Mashaan, menegaskan penolakan keras Kuwait terhadap penggunaan wilayah atau ruang udaranya dalam tindakan permusuhan terhadap negara mana pun. Ia juga menyatakan bahwa tuduhan Iran tidak berdasar dan tidak didukung bukti apa pun,” demikian pernyataan yang dikutip AFP, Rabu (3/6/2026).
IRGC Mengaku Bertanggung Jawab
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Menurut mereka, aksi itu merupakan balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap sebuah kapal tanker minyak dan sebuah pulau milik Iran.

“Sebagai tanggapan atas agresi ini, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait yang menampung helikopter, serta markas Armada Kelima AS di Bahrain, menjadi sasaran rudal dan drone pasukan Garda Revolusi,” kata IRGC dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui saluran Telegram resminya.
Akibat serangan itu, satu warga negara India dilaporkan tewas dan 63 orang lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini menjadi serangan mematikan pertama di kawasan Teluk sejak gencatan senjata pada 8 April diberlakukan.
Kompleks bandara yang menjadi sasaran mencakup Cargo City, sebuah pangkalan yang digunakan pasukan AS dan berlokasi terpisah dari terminal sipil. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Saud Abdulaziz Al-Atwan, mengatakan sekitar 30 rudal balistik dan drone diluncurkan dalam serangan tersebut.
AS Serang Kapal yang Diduga Langgar Blokade
Sebelumnya, militer Amerika Serikat menembakkan rudal ke sebuah kapal yang berupaya berlayar menuju pelabuhan Iran dan diduga melanggar blokade pada Selasa (2/6/2026).
Washington menyatakan telah menghentikan secara paksa enam kapal yang dituduh mencoba menembus blokade.
“Kapal tanker minyak M/T Lexie berbendera Botswana yang tidak bermuatan mengabaikan peringatan berulang kali selama periode 24 jam,” kata Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) dalam pernyataannya, Rabu (3/6/2026).
“Pesawat tempur Amerika kemudian melumpuhkan kapal tersebut dengan menembakkan rudal Hellfire ke ruang mesin kapal,” lanjut pernyataan itu.
CENTCOM tidak menjelaskan apakah serangan terhadap M/T Lexie menimbulkan korban jiwa di atas kapal.[]



