Kultum Ramadan: Bersihkan Hati Menyongsong Idul Fitri 1447 H

JAKARTA – Sebentar lagi bulan Ramadhan akan berakhir dan umat Islam akan menyongsong Hari Raya Idul Fitri. Di hari yang penuh kemenangan ini, umat Islam di seluruh dunia merayakan keberhasilan setelah satu bulan menjalankan perintah Allah SWT, yaitu menahan lapar dan dahaga serta mengekang hawa nafsu.

Dikutip dari halaman NU Online, Selasa (17/3/2026) Hakikat kemenangan tersebut adalah kembalinya manusia kepada fitrah kesucian, bersih dari dosa bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Namun, untuk mencapai kemenangan yang hakiki itu, setiap muslim perlu mempersiapkan diri sejak sekarang.

Tidak cukup hanya menjalankan ibadah puasa sesuai rukun dan syaratnya serta meninggalkan hal-hal yang dilarang saat berpuasa. Lebih dari itu, manusia juga dituntut untuk membersihkan jiwa dan hati dari berbagai kotoran nafsu yang dapat menghalangi kesucian tersebut. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjanjikan kenikmatan abadi bagi orang-orang yang mampu menyucikan jiwanya. Allah SWT berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. As-Syams: 9–10).

Ayat tersebut mengandung perintah untuk melakukan tazkiyatun nafs, yaitu membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati yang dapat menghalangi cahaya kebenaran. Orang yang mampu membersihkan hatinya akan memperoleh kemenangan sejati, sedangkan mereka yang membiarkan hatinya kotor oleh dosa dan penyakit hati akan mengalami kerugian, baik di dunia maupun di akhirat.

Baca juga:  Konflik AS–Iran Memanas, Trump Ancam Serang Lagi Pulau Kharg

Sayyid Muhammad Thanthawi menjelaskan bahwa tazkiyatun nafs dapat dicapai dengan cara istiqamah menjalankan perintah Allah, meningkatkan ketaatan, serta berusaha semaksimal mungkin menjauhi maksiat dan penyakit hati. Sebaliknya, kekotoran hati muncul dari perbuatan dosa yang dilakukan secara terus-menerus (Tafsir Al-Wasith, Kairo: Dar Nahdhah, 1998, juz XV, hlm. 413).

Ramadhan sendiri merupakan madrasah ruhani. Selama satu bulan penuh, manusia ditempa untuk menahan amarah dan hawa nafsu yang sering menjerumuskan ke dalam kehinaan. Setelah menjalani pendidikan spiritual tersebut, umat Islam kemudian menyambut hari kemenangan, yaitu Idul Fitri. Idul Fitri menjadi momentum kembalinya manusia kepada fitrah kesucian setelah menjalani proses pembinaan diri selama bulan Ramadhan.

Untuk meraih kemenangan yang hakiki, setiap orang juga harus membersihkan hati dari kebencian, kedengkian, dan berbagai kotoran batin lainnya yang dapat menutupi cahaya hati. Pada momen kemenangan ini, umat Islam diajak untuk melepaskan beban-beban hati, saling memaafkan, serta menumbuhkan kasih sayang antar sesama.

Pentingnya menjaga kebersihan hati bahkan diibaratkan seperti kedudukan seorang raja bagi anggota tubuh lainnya. Dalam sebuah negara, kepala negara memiliki posisi yang sangat strategis karena kemajuan dan kemunduran negara sangat dipengaruhi oleh kebijakan yang diambilnya. Demikian pula dengan hati yang menjadi indikator kualitas diri seseorang.

Rasulullah SAW bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Baca juga:  Indonesia Tuan Rumah AVC Men’s Champions League 2026, Momentum Kebangkitan Voli Asia

Artinya: “Ketahuilah, di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Namun jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Membiarkan penyakit hati, terlebih pada momen Idul Fitri, dapat merusak kesucian yang telah dibangun dengan susah payah selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu, umat Islam diajak untuk menjauhkan diri dari sifat sombong, iri, dengki, serta permusuhan terhadap sesama. Jangan sampai momen lebaran justru dijadikan ajang pamer pakaian baru, perhiasan, atau berbagai pernak-pernik yang dapat menumbuhkan kesombongan dan memicu rasa iri di antara sesama.

Penyakit hati juga sering menjadi penyebab retaknya hubungan sosial dan munculnya lingkungan yang tidak sehat. Seseorang yang masih menyimpan dendam terhadap saudara atau kerabatnya dapat merusak kebersamaan dan keharmonisan yang menjadi tradisi pada hari lebaran. Karena itu, momentum Idul Fitri hendaknya dijadikan sebagai kesempatan untuk saling memaafkan dan saling merelakan kesalahan satu sama lain. Hati yang lapang untuk meminta dan memberi maaf merupakan tanda kebersihan hati seseorang.

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk memaksimalkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan serta membersihkan hati dari belenggu hawa nafsu. Dengan demikian, kita dapat meraih keberkahan Ramadhan dan termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah pada Hari Raya Idul Fitri. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. []

Berita Populer

Berita Terkait