JAKARTA – Harga minyak dunia menguat pada Jumat (17/7/2026) di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pasar mengkhawatirkan konflik kedua negara akan kembali mengganggu pasokan minyak global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.
Dikutip dari CNBC, Jumat (17/7/2026), Iran mengancam akan menyerang infrastruktur di kawasan Timur Tengah. Ancaman itu akan dijalankan apabila Presiden AS, Donald Trump merealisasikan rencana menyerang fasilitas-fasilitas penting milik Teheran.
Harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman September naik 0,9 persen menjadi 85,01 dollar AS per barrel. Kenaikan tersebut memangkas penguatan yang sempat lebih besar pada awal perdagangan.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Agustus menguat 1 persen menjadi 79,74 dollar AS per barrel. Sehari sebelumnya, minyak WTI ditutup di level tertinggi sejak 15 Juni.
Secara mingguan, harga minyak Brent dan WTI sama-sama telah melonjak lebih dari 11 persen. Keduanya berada di jalur mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak akhir April 2026. Serangan AS picu kekhawatiran pasar Kenaikan harga minyak terjadi setelah Komando Pusat Militer AS (Centcom) mengumumkan telah menyelesaikan malam keenam berturut-turut operasi serangan terhadap Iran.
Centcom juga menyebut lebih dari 50.000 personel militer AS saat ini beroperasi di kawasan Timur Tengah. Mereka disebut tetap waspada, siap tempur, dan siap menjalankan operasi apabila diperlukan.
Ketegangan terbaru muncul setelah gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran, yang tercapai bulan lalu, kembali runtuh. Kondisi tersebut kembali mengganggu arus pasokan energi melalui Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melintasi selat tersebut sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi.
Iran ancam balas jika AS menyerang Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa (14/7/2026), Trump mengatakan militer AS akan menargetkan infrastruktur Iran pada pekan depan apabila kedua negara gagal mencapai terobosan diplomatik. Menanggapi pernyataan tersebut, juru bicara komando militer tertinggi Iran mengeluarkan pernyataan melalui Telegram pada Kamis (16/7/2026).
Ia memperingatkan bahwa seluruh infrastruktur yang masih berdiri di kawasan akan menjadi sasaran apabila ancaman AS benar-benar dilaksanakan.
Reuters juga melaporkan, mengutip tiga sumber yang tidak disebutkan namanya, Iran telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran.
Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Peluang kesepakatan damai masih terbuka Di tengah meningkatnya ketegangan, Rystad Energy masih menilai peluang tercapainya kesepakatan terbatas antara Washington dan Teheran tetap menjadi skenario utama.
Meski demikian, keyakinan terhadap skenario tersebut mulai melemah. Wakil Presiden Senior Rystad Energy, Jorge León mengatakan kedua negara masih memiliki kepentingan ekonomi yang kuat untuk menghindari gagalnya perundingan secara total.
Menurut León, pemerintah AS membutuhkan harga minyak yang lebih rendah menjelang pemilu sela pada November. Di sisi lain, Iran tidak ingin kehilangan berbagai insentif ekonomi yang sedang dinegosiasikan. “Teheran memiliki paket insentif ekonomi yang besar, termasuk akses terhadap aset yang dibekukan dan keringanan ekspor. Mereka tidak ingin kehilangan manfaat tersebut secara permanen,” kata León.[]



