JAKARTA – Sebanyak 80,6 persen penduduk Indonesia telah terhubung ke internet. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengatakan jumlah tersebut harus menjadi modal bagi Indonesia untuk menjadi pemain dalam ekosistem digital, bukan sekadar pasar bagi produk dan platform global.
“Dengan jumlah ini kita punya market power luar biasa. Jangan hanya berhenti pada market power. Kita harus bisa menjadi pemain yang signifikan dalam ekosistem digital yang sedang bertumbuh cukup dahsyat,” ujar Wamen Nezar saat menghadiri peringatan 20 tahun Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026).
Menurut Nezar, salah satu bagian penting dari posisi Indonesia di ruang digital adalah penggunaan domain .id.
PANDI mencatat jumlah domain .id kini telah mencapai sekitar 1,5 juta. Karena itu, Pemerintah bersama PANDI dan industri perlu memperluas penggunaan .id untuk UMKM, institusi pendidikan, dan layanan publik.
Menurutnya, penggunaan domain Indonesia dapat membuat kehadiran berbagai layanan dan aktivitas ekonomi lokal lebih mudah dikenali di internet.
“Pemerintah bersama PANDI dan industri perlu memperluas adopsi domain .id bagi UMKM, institusi pendidikan, hingga layanan publik,” kata Nezar.
Nezar juga melihat .id sebagai ruang untuk membawa kekayaan bahasa dan budaya Indonesia ke internet. Ia mencontohkan aksara dan bahasa Bali yang saat ini sudah dapat digunakan dalam domain .id.
“Domain .id ini bukan cuma dua huruf, ID. Di belakang itu adalah simbol dan kekayaan culture, knowledge, dan wisdom Nusantara,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran bahasa dan aksara daerah di ruang digital semakin penting ketika generasi muda lebih mudah mengenal budaya asing melalui internet.
“Kita punya begitu banyak bahasa, tetapi generasi muda kita malah tidak kenal,” katanya.
Di tengah pertumbuhan penggunaan domain, Nezar juga meminta aspek keamanan masuk sejak perancangan layanan. Ia menilai layanan berbasis .id harus memperhatikan risiko penipuan, konten berbahaya, eksploitasi anak, serta pengumpulan data yang tidak sesuai ketentuan.
“Keamanan dan kepercayaan harus dibangun sejak tahap perencanaan,” ujar Nezar.
Ia juga meminta PANDI membangun pertukaran data dengan registry, registrar, penyelenggara jasa internet, lembaga keamanan siber, dan tim respons insiden untuk mendeteksi serta menangani penyalahgunaan domain.
Selain keamanan, Nezar menekankan akses domain .id harus tetap terbuka, inklusif, interoperable, dan terjangkau. Kesiapan universal acceptance juga diperlukan agar nama domain dengan beragam bahasa dan aksara dapat digunakan secara luas.
Memasuki 20 tahun pengelolaan domain Indonesia, Nezar menilai ukuran keberhasilan PANDI tidak berhenti pada jumlah domain. Ia berharap .id semakin menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Indonesia di ruang digital.[]


