JAKARTA – Arab Saudi memiliki ambisi besar untuk memperkuat posisinya di industri game global. Negara tersebut semakin agresif melebarkan pengaruhnya di dunia game melalui dana investasi negara Public Investment Fund (PIF) dan anak usahanya, Savvy Games Group.
Melalui lembaga tersebut, Arab Saudi menggelontorkan puluhan miliar dolar AS untuk mengakuisisi sejumlah perusahaan game, mulai dari pengembang (developer), penerbit (publisher), hingga penyelenggara turnamen e-sports.
Langkah ini merupakan bagian dari ambisi Arab Saudi untuk menjadi salah satu pusat industri game dunia melalui program Vision 2030. Strateginya tidak hanya membangun studio game dari nol, tetapi juga mengakuisisi perusahaan yang telah memiliki game populer serta basis pemain besar di berbagai negara.
Berikut lima perusahaan game besar yang telah diakuisisi Arab Saudi.
1. Electronic Arts (EA)
Akuisisi terbesar Arab Saudi terhadap perusahaan game adalah Electronic Arts (EA). Melalui konsorsium yang dipimpin PIF, Arab Saudi mengambil alih EA dengan nilai transaksi mencapai 55 miliar dolar AS atau sekitar Rp990 triliun.
Nilai tersebut menjadikannya salah satu akuisisi terbesar dalam sejarah industri game. Melalui transaksi ini, PIF menguasai sekitar 93,4 persen saham EA, sementara sisanya dimiliki firma investasi Silver Lake dan Affinity Partners.
Setelah transaksi rampung, EA resmi keluar dari bursa saham Nasdaq dan berubah menjadi perusahaan privat.
EA merupakan salah satu penerbit game terbesar di dunia yang menaungi berbagai waralaba populer, seperti EA Sports FC, Battlefield, Need for Speed, hingga Madden NFL.
2. Moonton
Pada Maret 2026, Savvy Games Group mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi Moonton, pengembang game Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), dari ByteDance.
Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp101 triliun.
Akuisisi ini menarik perhatian karena Mobile Legends merupakan salah satu game mobile paling populer di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Game tersebut juga menjadi salah satu cabang utama dalam berbagai turnamen e-sports internasional.
Moonton sebelumnya diakuisisi ByteDance pada 2021. Melalui kepemilikan Moonton, Arab Saudi memperoleh salah satu IP game mobile terbesar sekaligus ekosistem e-sports melalui turnamen MPL dan M-Series.
3. Divisi Game Niantic
Pada 2025, Savvy Games Group melalui anak usahanya, Scopely, mengakuisisi bisnis game milik Niantic senilai 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp57 triliun.
Akuisisi tersebut mencakup sejumlah game berbasis augmented reality (AR), termasuk Pokemon GO, Pikmin Bloom, dan Monster Hunter Now. Ketiga game tersebut memiliki jutaan pemain aktif di berbagai negara.
Meski bisnis game berpindah tangan, Niantic tetap melanjutkan bisnis lainnya yang berfokus pada teknologi geospasial dan kecerdasan buatan melalui perusahaan baru.
4. SNK
Arab Saudi juga menguasai SNK, perusahaan game asal Jepang yang dikenal melalui berbagai seri game pertarungan legendaris, seperti The King of Fighters, Samurai Shodown, Fatal Fury, dan Metal Slug.
Proses akuisisi dilakukan secara bertahap. Yayasan milik Putra Mahkota Mohammed bin Salman, MiSK Foundation, mulai membeli saham SNK pada 2020 sebelum meningkatkan kepemilikannya pada 2022 hingga menjadi pemegang saham mayoritas.
Dengan menguasai lebih dari 90 persen saham, Arab Saudi memperoleh kendali atas salah satu perusahaan game tertua di Jepang yang memiliki sejarah panjang di industri arcade dan game konsol.
Akuisisi SNK juga memperlihatkan bahwa strategi Arab Saudi tidak hanya menyasar game modern, tetapi juga IP klasik yang masih memiliki basis penggemar besar di seluruh dunia.
5. ESL Gaming
Sebelum membeli perusahaan penerbit game, Arab Saudi lebih dahulu masuk ke industri e-sports dengan mengakuisisi ESL Gaming pada 2022. Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai hingga 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp26,8 triliun.
Setelah akuisisi, ESL kemudian digabungkan dengan platform kompetitif FACEIT dan membentuk ESL FACEIT Group, salah satu operator turnamen e-sports terbesar di dunia.
ESL selama ini dikenal sebagai penyelenggara berbagai kompetisi e-sports internasional untuk sejumlah game, seperti Counter-Strike, Dota 2, StarCraft II, hingga PUBG.[]


