BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) menjadi tuan rumah diskusi strategis bertajuk “Pengumpulan Informasi dan Validasi Data Kajian Grand Design Sistem Informatika Kearsipan Nasional” yang berlangsung di VIP Gedung AAC Dayan Dawood, Selasa (30/6/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber nasional, yakni Analis Kebijakan Ahli Muda Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Riko Priyatmo Ramudin, S.I.P., M.H., serta Peneliti Ahli Muda Direktorat Kebijakan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan BRIN, Novi Savarianti Fahrani, S.H., M.H.
Dalam paparannya, Riko Priyatmo Ramudin menekankan pentingnya integrasi sistem kearsipan secara nasional sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
“Penyusunan grand design ini bertujuan untuk menyelaraskan tata kelola kearsipan secara nasional agar lebih terpadu. Fokus utamanya adalah meningkatkan efektivitas koordinasi antarlembaga serta memperkuat keamanan data melalui transformasi digital,” ujar Riko.

Ia juga menyampaikan bahwa ke depan Aceh akan menjadi pusat referensi arsip kebencanaan nasional.
Komitmen USK dan Kesiapan SDM
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan USK, Dr. Fairuzzabadi, S.E., M.Sc., menyatakan bahwa penyusunan grand design merupakan langkah strategis dalam mendukung terwujudnya Satu Data Indonesia. Menurutnya, USK berkomitmen mengintegrasikan hasil riset dan data kampus ke dalam sistem nasional sebagai bagian dari pengembangan knowledge hub.
“Bagi USK, grand design ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan upaya strategis membangun knowledge hub yang dapat diakses semua orang. Kami berkomitmen penuh untuk menyumbangkan data riset dan ekosistem pengetahuan yang ada di kampus ini agar bisa bermanfaat luas bagi masyarakat dan bangsa,” tegas Fairuzzabadi.
Sementara itu, Kepala Arsip dan Museum USK, Husni Friady, S.T., M.M., memaparkan kesiapan sumber daya manusia di bidang kearsipan. Saat ini, USK didukung oleh 41 tenaga kearsipan yang terdiri atas 12 arsiparis ahli madya, 26 arsiparis ahli muda, dan 3 arsiparis ahli pertama.
Selain itu, USK mengelola 108 unit kearsipan dari total 302 unit kerja yang kini tengah bersiap menghadapi perubahan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) pada 2026.
“Kami terus melakukan pembinaan kearsipan secara bertahap di seluruh unit kerja. Kami siap bersinergi untuk memastikan sistem kearsipan USK semakin adaptif dan terstandarisasi,” ujar Husni.
Grand design yang tengah disusun tersebut nantinya akan menjadi pedoman bagi instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun perguruan tinggi dalam mewujudkan tertib administrasi kearsipan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan.
Melalui sinergi antara ANRI, BRIN, dan perguruan tinggi, sistem informatika kearsipan nasional diharapkan tidak hanya semakin mudah diakses, tetapi juga mampu menjaga memori kolektif bangsa sebagai warisan bagi generasi mendatang. []



