BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Sumatera Utara (USU) merekonstruksi sistem penyediaan air bersih di dua desa terdampak bencana di Aceh Tamiang, Aceh, dan Langkat, Sumatera Utara.
Program ini digagas oleh Dr.rer.nat. Widodo, S.T., M.T. dari ITB sebagai ketua tim, bersama Prof. Dr. Ir. Syarizal Fonna, S.T., M.Sc. dari USK, dan Dr.Eng. Taufiq Bin Nur, S.T., M.Eng.Sc. dari USU. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui skema Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 24 PTNBH Tahun 2026.
Model RIAAB dikembangkan dengan pendekatan terintegrasi. Tidak hanya memperbaiki fasilitas yang rusak, program ini mempertimbangkan kondisi bawah permukaan berdasarkan data ilmiah, merancang infrastruktur yang lebih adaptif terhadap ancaman bencana, serta menggunakan material yang memiliki ketahanan terhadap kondisi lingkungan pascabencana.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengubah pola penanganan infrastruktur air bersih dari sekadar perbaikan setelah terjadi kerusakan menjadi sistem yang lebih siap menghadapi risiko bencana.
Melalui program ini, manfaat langsung ditargetkan dirasakan oleh lebih dari 100 kepala keluarga di masing-masing desa. Masyarakat diharapkan memperoleh sumber air bersih yang layak, berkelanjutan, dan mudah diakses untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pelaksanaan program juga melibatkan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas mahasiswa dalam memahami persoalan nyata di masyarakat, khususnya terkait kebencanaan, infrastruktur dasar, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam merespons persoalan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendekatan berbasis data dan kebutuhan lapangan diharapkan dapat menghasilkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana di masa mendatang.
Selain memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, Model RIAAB diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur dasar desa di kawasan rawan bencana. Model ini juga diarahkan untuk mendukung penguatan ketahanan sosial-ekologi serta keberlanjutan pembangunan desa.
Saat ini, sistem penyediaan air bersih yang dibangun melalui program kolaborasi tersebut telah berfungsi dengan baik sesuai dengan rencana. Fasilitas tersebut telah diserahterimakan kepada masing-masing kepala desa dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berfungsinya kembali sistem penyediaan air bersih, program kolaborasi ITB, USK, dan USU tidak hanya memulihkan salah satu infrastruktur dasar yang terdampak bencana, tetapi juga menghadirkan sistem yang dirancang dengan mempertimbangkan risiko bencana di masa depan.
Melalui pengembangan Model Rehabilitasi Infrastruktur Air Bersih Adaptif Bencana (RIAAB), ketiga perguruan tinggi tersebut menghadirkan sistem air bersih yang tidak hanya memulihkan fasilitas yang rusak akibat banjir, tetapi juga dirancang lebih adaptif terhadap potensi bencana di masa mendatang.
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan daerah lainnya sepanjang 2025 tidak hanya meninggalkan kerusakan pada permukiman, tetapi juga memutus akses masyarakat terhadap infrastruktur dasar, termasuk sistem penyediaan air bersih.
Kerusakan tersebut dirasakan warga Desa Kampung Pahlawan, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, serta Desa Paya Perupuk, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Banjir merendam permukiman dan mencemari sumur-sumur dangkal warga. Sejumlah instalasi pompa dan jaringan pipa turut rusak, sementara pelindung sumur mengalami kerusakan akibat erosi dan sedimentasi.
Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya kualitas air akibat kontaminasi mikrobiologis, meningkatnya kekeruhan, serta tercemarnya akuifer dangkal. Akibatnya, masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air bersih dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air, tetapi juga dapat menghambat aktivitas dan pemulihan ekonomi masyarakat desa.
Hal inilah yang mendorong tim gabungan dari tiga perguruan tinggi ini menghadirkan pendekatan rehabilitasi yang tidak sekadar memperbaiki kerusakan, tetapi juga mempersiapkan sistem air bersih agar lebih mampu menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang.[]


