Said Didu Soroti Kekeliruan Data Susanah, Minta Pihak yang Beri Informasi ke Prabowo Diusut

JAKARTA – Pengamat kebijakan publik Muhammad Said Didu menanggapi polemik mengenai Susanah, warga Cileungsi, Kabupaten Bogor, yang sempat disebut Presiden Prabowo Subianto sebagai buruh pengupas bawang dengan bayaran Rp700 ribu per kilogram.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian setelah muncul informasi bahwa data yang disampaikan dalam pidato kenegaraan Presiden ternyata tidak sesuai dengan kondisi Susanah yang sebenarnya.

Melalui akun X pribadinya, Said Didu meminta pihak yang memberikan informasi kepada Presiden untuk ditelusuri dan dimintai pertanggungjawaban.

“Pihak yang membohongi Presiden @prabowo dengan data dan informasi salah harus diusut. Ini penghianatan,” tulis Said Didu, dikutip Selasa (18/8/2026).

HUT KE-81 KEMERDEKAAN RI

Susanah sebelumnya menjadi sorotan publik setelah namanya disebut Prabowo dalam pidato di Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

Baca juga:  Plt Camat Abubakar Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di SMAN 1 KBJ

Dalam pidatonya, Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai buruh harian asal Kabupaten Bogor yang bekerja mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram.

“Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram,” ujar Prabowo.

Namun, penelusuran media menemukan adanya kekeliruan informasi. Susanah diketahui bukan buruh pengupas bawang dengan bayaran Rp700 ribu per kilogram, melainkan bekerja sebagai penjahit kain majun atau kain perca dengan upah sekitar Rp700 per kilogram.

Baca juga:  Polda Bali Kirim 5 Truk Bantuan untuk Korban Bencana Alam di NTT

Sementara itu, rumah Susanah di Cileungsi sempat dipasangi garis polisi. Pemasangan tersebut bukan berkaitan dengan dugaan tindak pidana, melainkan dilakukan untuk mengantisipasi keramaian akibat kedatangan sejumlah wartawan setelah kasus tersebut viral.

Ketua RT, RW, dan kepala desa setempat berinisiatif memasang garis pembatas agar aktivitas keluarga Susanah tetap tenang. Langkah tersebut juga dilakukan untuk menjaga kenyamanan anak-anak Susanah yang turut terdampak perhatian publik.

Kasus ini kemudian memunculkan sorotan terhadap akurasi data dan informasi yang disampaikan kepada Presiden, khususnya dalam kegiatan resmi kenegaraan.[]

Berita Populer

Berita Terkait