JAKARTA – Skizofrenia kerap menjadi sorotan setiap kali terjadi kasus kekerasan yang melibatkan orang dengan gangguan jiwa. Kondisi ini memunculkan anggapan di masyarakat bahwa semua penyandang skizofrenia berbahaya. Padahal, persepsi tersebut tidak sepenuhnya benar.
Psikiater sekaligus Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa sebagian besar orang dengan skizofrenia tidak pernah melakukan tindakan kekerasan. Menurutnya, stigma yang mengaitkan skizofrenia dengan perilaku berbahaya merupakan mitos yang perlu diluruskan.
“Skizofrenia bukan sinonim dari kekerasan. Yang berbahaya bukan diagnosisnya, tetapi faktor risiko yang tidak dikenali dan tidak ditangani,” ujar dr. Lahargo dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Jumat (5/6/2026).
Mayoritas Pasien Tidak Bersikap Agresif
Lahargo menjelaskan, berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa mayoritas orang dengan skizofrenia justru lebih sering menjadi korban kekerasan, diskriminasi, penelantaran, maupun eksploitasi.

Meski demikian, risiko perilaku kekerasan memang dapat meningkat pada kelompok pasien tertentu yang memiliki faktor risiko tambahan. Berdasarkan sejumlah meta-analisis, risiko perilaku kekerasan pada penyandang skizofrenia memang lebih tinggi dibandingkan populasi umum, tetapi peningkatan tersebut tidak berlaku untuk semua pasien.
“Risiko tertinggi ditemukan pada fase awal penyakit atau First Episode Psychosis (FEP),” jelas Lahargo.
Menurutnya, sejumlah penelitian menunjukkan risiko perilaku kekerasan pada fase tersebut dapat meningkat empat hingga enam kali lipat dibandingkan populasi umum. Namun, risiko itu biasanya menurun secara signifikan setelah pasien mendapatkan pengobatan yang memadai dan dijalani secara teratur.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Lahargo menuturkan bahwa perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia bersifat multifaktorial atau dipengaruhi oleh banyak faktor.
Salah satu faktor yang paling sering ditemukan adalah waham curiga (persecutory delusion). Dalam kondisi ini, pasien merasa dirinya diikuti, disadap, diracun, atau hendak disakiti oleh orang lain. Perasaan terancam tersebut dapat mendorong pasien bertindak agresif sebagai bentuk pertahanan diri.
Selain itu, halusinasi perintah juga berpotensi meningkatkan risiko. Pasien dapat mendengar suara-suara yang memerintahkan untuk menyerang, melukai orang lain, atau bahkan menyakiti diri sendiri.
Namun, menurut Lahargo, faktor yang paling konsisten terkait perilaku kekerasan justru bukan skizofrenia itu sendiri, melainkan penyalahgunaan zat adiktif.
“Pada banyak kasus, yang membuat pasien berbahaya bukan skizofrenianya, tetapi alkohol dan narkobanya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan alkohol, ganja, sabu, maupun narkotika lainnya menjadi faktor risiko yang paling sering ditemukan dalam berbagai penelitian. Bahkan, beberapa studi menunjukkan penyalahgunaan zat memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap perilaku kekerasan dibandingkan diagnosis skizofrenia.
Faktor lain yang perlu diwaspadai adalah ketidakpatuhan terhadap pengobatan, seperti menghentikan konsumsi obat tanpa konsultasi, tidak menjalani kontrol rutin, atau menolak terapi. Kondisi tersebut dapat memicu kekambuhan gejala psikotik, memperburuk waham dan halusinasi, serta menurunkan kemampuan pasien dalam mengendalikan impuls.
Tanda-Tanda Awal yang Perlu Dikenali
Lahargo menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengenali tanda-tanda awal yang berpotensi mengarah pada perilaku agresif.
Pada tahap awal, pasien biasanya tampak gelisah, mondar-mandir, sulit diam, atau menunjukkan tatapan tajam. Jika kondisi memburuk, pasien dapat mulai berbicara dengan nada tinggi, mudah tersinggung, mengepal tangan, atau menendang benda di sekitarnya.
Tahap berikutnya ditandai dengan munculnya ancaman verbal, seperti memaki atau mengancam orang lain. Dalam kondisi yang lebih berat, perilaku kekerasan fisik dapat terjadi, mulai dari memukul, menendang, mencekik, hingga merusak barang.
Karena itu, keluarga dan tenaga kesehatan perlu segera melakukan pendekatan yang tepat ketika tanda-tanda tersebut mulai muncul agar situasi tidak berkembang menjadi lebih serius.
Kepatuhan Berobat Jadi Faktor Kunci
Menurut Lahargo, faktor pelindung (protective factor) yang paling kuat untuk mencegah perilaku kekerasan adalah kepatuhan menjalani pengobatan.
Selain itu, dukungan keluarga juga memegang peranan penting dalam proses pemulihan. Keluarga yang menerima kondisi pasien, mendampingi proses terapi, serta membantu mengingatkan jadwal minum obat terbukti mampu meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Faktor pelindung lainnya meliputi rehabilitasi psikososial, psikoterapi, serta menjauhi alkohol dan narkoba.
“Pengobatan yang teratur, dukungan keluarga, rehabilitasi psikososial, dan bebas narkoba merupakan kunci utama pencegahan perilaku kekerasan pada skizofrenia,” ujar Lahargo.
Ia menegaskan bahwa pemahaman yang tepat mengenai skizofrenia penting untuk mengurangi stigma di masyarakat, sekaligus mendorong pasien mendapatkan dukungan dan pengobatan yang mereka butuhkan.[]



