Membangun Birokrasi yang Melayani, BBPOM Aceh Jadi Rujukan Balai POM Pangkal Pinang

BANDA ACEH – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh (BBPOM Aceh) berbagi pengalaman dan praktik baik dalam pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) kepada Balai POM di Pangkal Pinang melalui kegiatan Sharing Session Pencapaian Predikat WBBM yang dilaksanakan secara daring pada Jumat (17/7/2026).

Kegiatan ini diselenggarakan secara daring sebagai bagian dari upaya Balai POM di Pangkal Pinang memperkuat pembangunan Zona Integritas melalui pembelajaran dari unit kerja yang telah berhasil meraih predikat WBBM.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai POM di Pangkal Pinang, Alex Sander, yang menyampaikan apresiasi atas kesediaan BBPOM Aceh berbagi pengalaman. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi sekaligus referensi dalam memperkuat implementasi reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik di lingkungan Balai POM Pangkal Pinang.

Selanjutnya, Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, menyampaikan sambutan sekaligus berbagi pengalaman mengenai perjalanan BBPOM Aceh dalam membangun budaya kerja yang berorientasi pada pelayanan prima, inovasi, dan integritas hingga berhasil meraih predikat WBBM.

“Predikat WBBM bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari komitmen seluruh pegawai untuk terus menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas, inovatif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca juga:  Kapolda Aceh: Ramah Tamah Sertijab Momentum Perkuat Soliditas dan Lanjutkan Pengabdian untuk Masyarakat

Kunci utamanya adalah membangun budaya kerja yang konsisten, kolaboratif, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan,” ujar Riyanto.

Sesi sharing kemudian dilanjutkan oleh Ketua Tim Bidang Informasi dan Komunikasi BBPOM Aceh sekaligus Ketua Kelompok Kerja Reformasi Birokrasi Bidang Pelayanan Publik, Desi Ariyanti Ningsih.

Dalam pemaparannya, Desi menjelaskan berbagai strategi yang diterapkan BBPOM Aceh dalam meraih predikat WBBM, mulai dari penguatan pembangunan Zona Integritas, implementasi pelayanan publik yang berorientasi kepada masyarakat, hingga pengembangan inovasi yang berdampak langsung bagi publik.

Berbagai inovasi unggulan turut dipaparkan dalam kegiatan tersebut, di antaranya SANGER Ureueng Aceh, Korporasi (Kolaborasi Fasilitasi UMK dalam Sertifikasi dan Izin Edar), JANET (Jawab Netizen), dan Anjungan Teleyanlik Mandiri (ATM) BPOM Aceh yang menjadi sarana mendekatkan layanan dan edukasi kepada masyarakat.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai inovasi yang dikembangkan oleh masing-masing kelompok kerja Reformasi Birokrasi, termasuk inovasi yang digagas oleh Agen Perubahan, sebagai bentuk keterlibatan aktif seluruh pegawai dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan dan tata kelola organisasi.

Desi menegaskan bahwa inovasi pelayanan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak yang nyata.

Baca juga:  KIA Putuskan Pokir DPRK Bireuen Informasi Terbuka, Bappeda Serahkan Dokumen ke SAPA

“Inovasi tidak harus selalu besar, tetapi harus mampu menyelesaikan permasalahan, mempermudah pelayanan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Keberhasilan pembangunan Zona Integritas juga lahir dari keterlibatan seluruh pegawai melalui berbagai inovasi yang saling mendukung untuk menciptakan pelayanan publik yang semakin berkualitas,” jelas Desi.

Sesi diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta dari Balai POM Pangkal Pinang menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai strategi mempertahankan budaya integritas, pengelolaan inovasi pelayanan publik, implementasi reformasi birokrasi, hingga kiat membangun komitmen seluruh pegawai dalam mewujudkan pelayanan prima.

Berbagai pengalaman dan praktik baik yang dibagikan menjadi ruang pembelajaran yang konstruktif bagi kedua satuan kerja.

Melalui kegiatan sharing session ini, diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antarunit pelaksana teknis BPOM dalam mempercepat pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani.

Pertukaran pengalaman dan praktik baik diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi-inovasi pelayanan yang semakin adaptif, berdampak, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, sehingga kualitas pelayanan publik BPOM terus meningkat dan memberikan perlindungan yang optimal bagi masyarakat Indonesia.[]

Berita Populer

Berita Terkait