JAKARTA – Sama pentingnya dengan latihan olahraga itu sendiri, tubuh juga membutuhkan waktu jeda dan pemulihan yang cukup setelah beraktivitas fisik. Saat berolahraga, otot, sendi, dan berbagai jaringan tubuh mengalami tekanan serta mikrokerusakan yang merupakan bagian normal dari proses adaptasi.
Pada fase pemulihan inilah tubuh bekerja memperbaiki jaringan yang rusak, mengisi kembali cadangan energi, serta membangun kekuatan dan daya tahan yang lebih baik. Banyak orang memiliki cara masing-masing untuk memulihkan tubuh setelah berolahraga. Ada yang langsung berendam atau mandi air dingin, menjalani pijat olahraga, melakukan peregangan, hingga bersantai di kafe sambil masih mengenakan pakaian yang basah oleh keringat.
Namun, apakah berbagai kebiasaan tersebut benar-benar membantu proses pemulihan tubuh atau justru sebaliknya? Berikut penjelasan dr. Alan Cheung, konsultan senior ahli bedah ortopedi di Mount Elizabeth Hospitals.
Mandi Air Dingin dan Cryotherapy
Fenomena mandi air dingin, bahkan berendam di air es setelah latihan intens, dipercaya dapat mempercepat pemulihan kebugaran. Menurut dr. Alan Cheung, praktik pengondisian suhu tersebut pada dasarnya tidak berbahaya dan boleh dilakukan.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya melakukan pendinginan tubuh (cooling down) melalui gerakan peregangan setelah berolahraga.
“Saya tidak merasa mandi di pancuran air dingin itu berbahaya, asalkan melakukan peregangan setelahnya agar tubuh tidak menjadi kaku,” jelas dr. Cheung.
Sementara itu, metode pendinginan ekstrem seperti cryotherapy umumnya digunakan pada kasus cedera tertentu. Menurutnya, metode tersebut paling bermanfaat dalam 48 jam pertama setelah cedera untuk membantu mengurangi pembengkakan awal.
“Jika Anda mengalami cedera, tubuh sebenarnya membutuhkan peradangan untuk pulih,” ujarnya.
Efektivitas Pijat Olahraga dan Penanganan Medis
Dari sudut pandang kedokteran olahraga, pijat olahraga lebih berfungsi meredakan gejala dibandingkan mencegah cedera pada sesi latihan berikutnya.
“Bagi saya, pijat olahraga lebih bertujuan untuk relaksasi otot, meredakan otot yang sakit, serta sendi yang kaku, sebagai pendamping perawatan seperti fisioterapi,” kata dr. Cheung.
Ia menilai fisioterapi lebih direkomendasikan secara medis karena terapi tersebut membantu memperkuat area tubuh yang lemah sehingga risiko cedera berulang dapat dikurangi.
Selain itu, pijat juga berisiko memperburuk kondisi jika dilakukan saat terdapat peradangan atau cedera yang belum terdiagnosis dengan tepat.
“Jika rasa sakitnya parah, tidak cepat membaik, dan setelah mencoba pijat masih terasa sakit hingga Anda tidak dapat berjalan dengan benar, maka sebagian besar orang harus mencari bantuan medis untuk melakukan pemindaian MRI,” tuturnya.
Budaya Nongkrong Setelah Berolahraga
Duduk santai di kafe setelah berolahraga telah menjadi kebiasaan banyak orang. Menurut dr. Cheung, dampaknya terhadap pemulihan tubuh sangat bergantung pada tujuan masing-masing individu saat berolahraga.
“Itu bergantung pada apa tujuan Anda. Jika tujuan utama berolahraga adalah untuk bersosialisasi dan berkumpul bersama teman-teman, maka mengapa tidak? Lakukan saja apa yang Anda inginkan,” ujarnya.
Namun, bagi mereka yang memiliki target menurunkan berat badan atau menjaga komposisi tubuh, penting untuk tetap memperhatikan asupan kalori dari makanan dan minuman yang dikonsumsi setelah olahraga.
Apakah Stres Memengaruhi Pemulihan Cedera?
Banyak orang meyakini bahwa kondisi psikologis, seperti rendahnya tingkat stres atau tingginya rasa bahagia, dapat mempercepat proses penyembuhan cedera.
Menurut dr. Cheung, kondisi mental memang penting bagi kesehatan secara umum. Namun, dalam proses penyembuhan luka fisik akibat trauma, tubuh memiliki mekanisme perbaikan biologis yang bekerja secara otomatis.
“Apa pun tingkat stres Anda, tubuh akan pulih sesuai dengan kecepatannya sendiri. Anda tidak dapat mengendalikannya melalui pikiran,” jelasnya.
Karena itu, proses pemulihan pascaolahraga maupun pascacedera tetap membutuhkan kombinasi antara istirahat yang cukup, penanganan yang tepat, serta kebiasaan sehat yang mendukung kinerja alami tubuh dalam memperbaiki dirinya sendiri.[]



