BANDA ACEH – Majelis Adat Aceh MAA) masa bakti 2026–2031 resmi dikukuhkan oleh Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar di Pendopo Istana Wali Nanggroe kawasan Lampeuneurut, Aceh Besar, Sabtu (9/5/2026).
Dalam susunan kepengurusan baru tersebut, Yusri Yusuf resmi ditetapkan sebagai Ketua MAA periode 2026–2031. Ia didampingi Miftachuhddin Cut Adek dan Barlian AW masing-masing sebagai Wakil Ketua I dan Wakil Ketua II.
Pengukuhan itu berdasarkan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 800.1.1.4/389/2026 tentang Penetapan Pengurus Majelis Adat Aceh Masa Tugas 2026–2031. Selain menetapkan struktur pengurus inti, keputusan tersebut juga memuat susunan penasihat serta pemangku adat MAA.
Sejumlah tokoh Aceh masuk dalam jajaran penasihat, di antaranya Yusni Saby, Dahlan, dan Sulaiman Abda. Sementara itu, posisi Ketua Pemangku Adat dipercayakan kepada Syaiba Ibrahim dengan Ramli Daud sebagai wakil ketua dan Abdurrahman sebagai sekretaris.
Berikut susunan pengurus lengkap MAA periode 2026-2031.
PENGURUS MAJELISADAT ACEH MASA TUGAS 2026-2031
A. PENASIHAT
1. Wali Nanggroe Aceh Penasihat
2. Gubernur Aceh
3. Wakil Gubernur Aceh
4. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Acch
5. Pangdam Iskandar Muda
6. Kapolda Aceh
7. Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh
8. Prof. Dr. Yusni Saby, MA
9. Prof. Dahlan, S.H., M.H
10. Drs. Sulaiman Abda, M.Si
11. Mayjen TNI (Purn) Teuku Hafil Fuddin
12. Drs. Azhari Basyar
13. Drs. Sofyan Saleh
14. Abdul Muthaleb
15. Said Akram
16. Farrah Hamza
B. PENGURUS MAA MASA BAKTI 2026-2031
1. Prof. Dr. Drs. Yusri Yusuf, M.Pd (Ketua)
2. Miftachuhddin Cut Adek, SE, M.Si Wakil (Ketua)
I3. Drs. Barlian AW (Wakil Ketua)
4. Sanusi M. Syarif, S.E., M.Phil (Ketua Bidang Hukum Adat)
5. Dr. Teuku Rasyidin, S.H., M.H (Anggota)
6. Adnan, S.Sos., M.M (Anggota)
7. Muhammad Yusuf Syahputra (Anggota)
8. Asnawi Zainun, S.H (Ketua Bidang Adat Istiadat)
9. Drs. Husaini Husda, M.Pd (Anggota)
10. Drs. Tgk. Bakhtiar Yahya (Anggota)
11. Drs. Abdul Rahman, M.M (Anggota)
12. Dr. Bustami Abubakar, M.Hum (Ketua Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan)
13. Azwir Nazar, M.Si, Ph.D (Anggota)
14. Adnan NS (Anggota)
15. Iskandar, S.E (Anggota)
16. Prof. Dr. Safrul Muluk, M.A (Ketua Bidang Pusaka dan Khasanah Adat)
17. Drs. Nurdin AR, M.Si (Anggota)
18. Fauzi Umar, S.Hut., M.M (Anggota)
19. Junaidi, S.Ag., M.H (Anggota)
20. Dr. Harbiyah Gani, M.Pd (Ketua Bidang Putroe Phang)
21. Dr. Febyolla Presilawati, S.E.Ak, M.M (Anggota)
22. Hj. Dolla Shaffinas (Anggota)
23. Hj. Dra. Siti Rayati Gazali Anggota
C. PEMANGKU ADAT MAA MASA BAKTI 2026-2031
1. Dra. Syaiba Ibrahim (Ketua Pemangku Adat)
2. Ramli Daud, S.H., M.M (Wakil Ketua Pemangku Adat)
3. Abdurrahman, S.H., M.H (Sekretaris Pemangku Adat)
4. Teuku Saifullah (Ketua Komisi Pembangunan Adat)
5. Prof. Dr. Mohd. Harun, M.Pd (Sekretaris Komisi Pembangunan Adat)
6. Marzuki Usman (Anggota Komisi Pembangunan Adat)
7. Drs. Adnan Beuransah (Ketua Komisi Islah/Damai dan Rekonsiliasi)
8. Abdul Rahman Ismail (Sekretaris Komisi Islah/Damai dan Rekonsiliasi)
9. Muhammad Saleh, S.H., M.M (Anggota Komisi Islah/Damai dan Rekonsiliasi)
10. Prof. Dr. Muslim Zainuddin, M.Si (Ketua Komisi Ekonomi Adat)
11. Sofyan Yusuf (Sekretaris Komisi Ekonomi Adat)
12. Tgk. Abdul Azis (Anggota Komisi Ekonomi Adat)
13. Asmahan, S.Ag., M.H., Ph.D (Ketua Komisi Pembendayaan Keluarga, Perempuan, dan Anak)
14. Ainal Mardhiah, S.Pd.1 (Sekretaris Komisi Pemberdayaan Keluarga, Perempuan, dan Anak)
15. Nur Ainun, S.H (Anggota Komisi Pemberdayaan Keluarga, Perempuan, dan Anak).
Dalam sambutannya, Wali Nanggroe menegaskan bahwa amanah yang diemban pengurus baru bukan sekadar jabatan organisasi, melainkan tanggung jawab menjaga marwah adat Aceh sebagai warisan leluhur.
“Adat tidak boleh hanya menjadi simbol seremonial, tetapi harus hidup dalam kehidupan masyarakat—menjadi pedoman etika, memperkuat persatuan, menyelesaikan persoalan sosial secara bijaksana, serta menjaga jati diri bangsa Aceh,” kata Malik Mahmud.
Ia mengingatkan bahwa Aceh dibangun di atas perpaduan nilai agama, adat, dan budaya sebagaimana falsafah Aceh, “Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala.”
Menurutnya, di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang semakin kompleks, peran MAA menjadi sangat penting dalam menjaga identitas dan persatuan masyarakat Aceh.
Wali Nanggroe juga meminta kepengurusan baru memperkuat lembaga adat hingga tingkat gampong serta membangun sinergi dengan pemerintah, ulama, dan generasi muda. Generasi muda Aceh memahami sejarah, budaya, bahasa, dan adat istiadatnya sendiri. “Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati akar budayanya,” ujarnya.
Selain itu, Malik Mahmud mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga perdamaian Aceh dan memperkuat ukhuwah di tengah dinamika sosial yang berkembang.[]


