JAKARTA — Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengumumkan bahwa awal bulan Dzulqadah 1447 H jatuh pada Ahad (19/4/2026). “Awal bulan Dzulqadah 1447 H bertepatan dengan Ahad Legi, 19 April 2026 M (mulai malam Ahad) atas dasar rukyah,” sebagaimana tertuang dalam Pengumuman Nomor 137/PB.08/A.II.11.13/13/04/2026 yang dikeluarkan pada Sabtu (18/4/2026).
Keputusan tersebut didasarkan pada hasil rukyatul hilal, di mana terdapat lokasi yang melaporkan telah melihat hilal pada Sabtu, 29 Syawal 1447 H bertepatan dengan 18 April 2026 M. “Telah dilaporkan penyelenggaraan rukyatul hilal pada Sabtu Kliwon, 29 Syawal 1447 H / 18 April 2026 M,” tulis pengumuman tersebut.
LF PBNU juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi dan partisipasi Nahdliyin dalam pelaksanaan rukyatul hilal. Selain itu, seluruh jajaran Lembaga Falakiyah PWNU dan PCNU diinstruksikan untuk menyampaikan ikhbar ini secara luas. “Diharapkan bertindak aktif untuk menyebarluaskan pengumuman awal bulan Dzulqadah 1447 H ini kepada warga Nahdlatul Ulama, khususnya jajaran pengurus di wilayah dan cabang masing-masing,” lanjut pengumuman itu.
Sebagai informasi, tinggi hilal terbesar tercatat di Kota Sabang, Aceh, dengan tinggi hilal mar’ie 10 derajat 31 menit, elongasi hilal haqiqy 14 derajat 40 menit, dan lama hilal di atas ufuk selama 43 menit. Sementara itu, ketinggian hilal terkecil terjadi di Merauke, Papua Selatan, dengan tinggi hilal mar’ie 6 derajat 42 menit, elongasi hilal haqiqy 12 derajat 54 menit, serta lama hilal 28 menit 6 detik.
Adapun di Jakarta, dengan markaz Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat (koordinat 6º 11’ 25” LS dan 106º 50’ 50” BT), tinggi hilal tercatat 8 derajat 6 menit 5 detik. Matahari terbenam berada pada 10 derajat 42 menit 32 detik utara titik barat, dengan elongasi 14 derajat 9 menit 40 detik dan lama hilal 34 menit 10 detik. Sementara itu, ijtimak (konjungsi) terjadi pada Jumat malam Sabtu Kliwon, 17 April 2026 pukul 18.54 WIB.
Perhitungan data tersebut menggunakan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama. Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data prakiraan hilal untuk penentuan awal Dzulqadah 1447 H. Dalam laporan tersebut, konjungsi disebut terjadi pada Jumat, 17 April 2026 pukul 11.51.41 UT atau 18.51.41 WIB, saat bujur ekliptika Matahari dan Bulan berada pada posisi yang sama, yakni 27,48 derajat.
Di wilayah Indonesia, pada 17 April 2026, matahari terbenam paling awal terjadi di Merauke, Papua, pukul 17.35.02 WIT, dan paling akhir di Sabang, Aceh, pukul 18.46.05 WIB. Sementara pada 18 April 2026, matahari terbenam paling awal terjadi pukul 17.34.36 WIT di Merauke dan paling akhir pukul 18.46.00 WIB di Sabang. Berdasarkan waktu konjungsi dan matahari terbenam tersebut, dapat disimpulkan bahwa konjungsi terjadi setelah matahari terbenam pada 17 April 2026 di seluruh wilayah Indonesia.
Ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 April 2026 berkisar antara -5,39 derajat di Merauke hingga -2,54 derajat di Sabang. Sementara pada 18 April 2026, ketinggian hilal berkisar antara 6,41 derajat di Merauke hingga 10,36 derajat di Sabang. Elongasi geosentris pada 17 April berkisar antara 3,89 derajat hingga 4,22 derajat, sedangkan pada 18 April berkisar antara 12,76 derajat hingga 14,52 derajat.
Data BMKG juga menunjukkan bahwa umur bulan saat matahari terbenam pada 17 April 2026 berkisar antara -3,28 jam hingga -0,09 jam, sedangkan pada 18 April 2026 berkisar antara 20,72 jam hingga 23,91 jam. Adapun lama hilal di atas ufuk pada 17 April masih negatif, yakni antara -19,15 menit hingga -8,73 menit, sedangkan pada 18 April sudah positif, berkisar antara 31,84 menit hingga 49,36 menit.[]


