BANDA ACEH – PT Hutama Karya (Persero) mempercepat penyelesaian sejumlah proyek penanganan tanggap darurat pascabencana di Pulau Sumatra menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk memulihkan konektivitas masyarakat di wilayah terdampak longsor dan banjir.
Percepatan tersebut mencakup proyek di Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara. Di Sumatera Barat, proyek Penanggulangan Bencana Alam Malalak telah rampung 100 persen, sedangkan penanganan ruas Padang Panjang–Sicincin (Lembah Anai) telah mencapai progres 96,71 persen dan ditargetkan selesai pada 26 Juli 2026.
Sementara itu, di Provinsi Aceh, Hutama Karya masih mengerjakan sejumlah proyek penanganan darurat pada Ruas PPK 3.3 Aceh, Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues–Blangkejeren, serta Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane.
Pada Ruas PPK 3.3 Aceh, progres pekerjaan hingga Juni 2026 mencapai 30,46 persen. Penanganan dilakukan di 26 titik longsoran dan dua titik jembatan.
Pekerjaan meliputi pembangunan dinding penahan tanah, box culvert, bored pile, jembatan rangka baja, hingga perlindungan lereng pada sejumlah titik yang mengalami kerusakan akibat longsor.
Hutama Karya menyebut beberapa titik prioritas telah selesai dan berfungsi, sedangkan titik lainnya ditargetkan mulai difungsikan pada momentum HUT RI, 17 Agustus 2026.
Untuk Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues–Blangkejeren, progres pekerjaan telah mencapai 22,41 persen hingga Juni 2026. Penanganan dilakukan pada 23 titik di ruas Aceh Tengah–Blangkejeren dan Blangkejeren–Aceh Tenggara.
Pekerjaan mencakup pemasangan buis beton, beton siklop, dinding penahan tanah, serta timbunan pilihan guna memperkuat badan jalan dan lereng di kawasan rawan longsor.
Beberapa titik prioritas, seperti Palok dan Ramung, ditargetkan dapat difungsikan pada Agustus 2026 untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Adapun pada Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane, progres pekerjaan hingga pekan kedua Juli 2026 mencapai 43 persen.
Proyek tersebut menangani enam titik, terdiri atas dua jembatan dan empat titik longsoran, yakni Jembatan Lawe Mengkudu, Bener Berpapah, Lawe Ger-Ger, Jembatan Penanggalan, Ketambe, dan Cafetingir.
Salah satu fokus utama proyek ialah penyelesaian Jembatan Lawe Mengkudu yang ditargetkan dapat difungsikan pada Agustus 2026 sebagai upaya memulihkan konektivitas di Kabupaten Aceh Tenggara dan sekitarnya.
Selain di Aceh, Hutama Karya juga menangani proyek tanggap darurat pada koridor Tarutung–Sibolga, Sumatera Utara. Hingga 10 Juli 2026, progres fisik proyek tersebut telah mencapai 24,26 persen.
Pelaksana Tugas Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Hamdani mengatakan percepatan penanganan infrastruktur pascabencana merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pemerintah memulihkan konektivitas masyarakat.
“Hutama Karya berkomitmen mendukung percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana melalui pembangunan infrastruktur yang aman, andal, dan berkelanjutan. Melalui berbagai proyek penanganan tanggap darurat di Sumatra, kami berharap konektivitas masyarakat dapat segera pulih serta memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap risiko bencana di masa mendatang,” ujar Hamdani dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Hamdani, proyek-proyek tersebut tidak hanya bertujuan memulihkan akses transportasi masyarakat, tetapi juga meningkatkan keselamatan pengguna jalan, memperlancar distribusi logistik, mendukung aktivitas ekonomi, serta memperkuat ketahanan jaringan transportasi nasional terhadap risiko bencana hidrometeorologi.[]



