JAKARTA – Jumlah perokok dewasa di Indonesia terus bertambah dalam satu dekade terakhir. Pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2026, kondisi tersebut kembali menjadi sorotan karena menunjukkan besarnya tantangan pengendalian konsumsi tembakau di Tanah Air.
Berdasarkan keterangan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) yang diterima Kompas.com, Minggu (31/5/2026), jumlah pengguna produk tembakau di Indonesia meningkat sekitar 8,8 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir. Data tersebut mengacu pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021 yang kembali dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan pada 2024.
Hasil survei menunjukkan sebanyak 34,5 persen penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi perokok tertinggi di dunia.
Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini mengusung tema global “Unmasking the Appeal – Countering Nicotine and Tobacco Addiction” atau mengungkap daya tarik semu serta melawan kecanduan nikotin dan tembakau. Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi Indonesia yang masih menghadapi tingginya konsumsi produk tembakau, baik rokok konvensional maupun rokok elektronik.
Komnas PT menyebut Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam dekade mendatang, ketika banyak negara lain justru menunjukkan tren penurunan. Permasalahan ini tidak hanya terjadi pada kelompok dewasa, tetapi juga pada anak dan remaja.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi merokok pada anak usia 10 hingga 18 tahun mencapai 7,4 persen. Meski secara persentase sedikit menurun dibandingkan hasil Riskesdas 2018, jumlah perokok anak secara agregat masih meningkat seiring pertumbuhan populasi dan belum mencapai target nasional sebesar 5,4 persen.
Di sisi lain, penggunaan rokok elektronik atau vape juga mengalami lonjakan signifikan. Menurut Komnas PT, prevalensi penggunaan rokok elektronik meningkat 10 kali lipat, dari 0,3 persen pada 2011 menjadi 3 persen pada 2021. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pengendalian tembakau kini tidak hanya berkaitan dengan rokok konvensional, tetapi juga berbagai produk berbasis nikotin yang semakin banyak digunakan masyarakat.
Tingginya jumlah perokok berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan tembakau naik dari faktor risiko utama penyebab Disability Adjusted Life Years (DALYs) peringkat kelima pada 1990 menjadi peringkat kedua pada 2021.
Sejumlah penyakit yang paling sering dikaitkan dengan konsumsi tembakau antara lain penyakit jantung iskemik, stroke, kanker paru-paru, kanker payudara, dan diabetes. Sementara itu, Tobacco Atlas 2025 memperkirakan sekitar 295.000 kematian setiap tahun di Indonesia berkaitan dengan konsumsi tembakau. Kerugian ekonomi akibat penyakit terkait rokok juga diperkirakan mencapai lebih dari Rp288 triliun per tahun.
Komnas PT menilai kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pengendalian konsumsi rokok masih menjadi pekerjaan besar. Melalui momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026, berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat edukasi, pencegahan, serta kebijakan pengendalian tembakau guna menekan beban kesehatan dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan.[]



