Gen Z dan Agama: Kebangkitan Iman atau Sekadar Tren Kultural?

Fenomena kembalinya sebagian Generasi Z kepada agama dalam beberapa tahun terakhir tampak paradoksal. Di satu sisi, dunia semakin sekuler, rasional, dan terdigitalisasi. Namun di sisi lain, muncul kecenderungan baru: anak muda mulai kembali melirik agama baik dalam konteks Katolik di Amerika Serikat maupun Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Laporan The Washington Post (2026) mencatat meningkatnya minat sebagian Gen Z terutama laki-laki terhadap Katolik. Ketertarikan ini tidak selalu berbasis doktrin, melainkan kerap dipicu oleh pencarian makna, disiplin hidup, serta estetika religius yang dianggap “otentik”. Meski demikian, data dari Pew Research Center menunjukkan bahwa secara umum Gen Z tetap merupakan generasi dengan tingkat afiliasi keagamaan terendah di Barat. Artinya, fenomena ini tidak bersifat massal, melainkan terbatas pada kelompok tertentu yang mencari alternatif di tengah kejenuhan modernitas.

Dalam konteks Islam, gambarnya tampak lebih stabil, tetapi tetap menunjukkan pola serupa. Penelitian dari UIN Sunan Kalijaga menunjukkan bahwa tingkat religiusitas Gen Z Muslim di Indonesia relatif tinggi, terutama dalam praktik ibadah dan identifikasi keagamaan. Di Inggris, survei yang dilaporkan British Muslim Magazine menemukan bahwa sekitar 90 persen Gen Z Muslim rutin berdoa dan sebagian besar masih memiliki keterikatan dengan komunitas masjid. Sementara itu, laporan global Pew Research Center menegaskan bahwa Islam merupakan agama dengan pertumbuhan demografis tercepat di dunia.

Namun, angka-angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan kebangkitan iman dalam arti teologis klasik. Jika ditelaah lebih dalam, fenomena ini justru mencerminkan sesuatu yang lebih subtil: agama sedang mengalami transformasi fungsi. Generasi Z tidak semata-mata “kembali” kepada agama, melainkan menggunakan agama sebagai alat untuk menjawab krisis eksistensial—mulai dari kecemasan digital, tekanan sosial, hingga ketidakpastian masa depan. Karena itu, religiusitas Gen Z lebih tepat dipahami sebagai mikro-tren kultural (micro-trend religious turn), bukan gelombang kebangkitan besar. Ia bersifat fragmentatif, muncul dalam komunitas kecil, serta sangat dipengaruhi konteks digital dan dinamika identitas.

Baca juga:  Menuju Praktik Kefarmasian Berkualitas, BBPOM Aceh Beri Pembekalan Perizinan, Pengelolaan Obat, dan AMR

Untuk memahami perubahan ini tanpa terjebak dalam kerumitan teoritis, dua perspektif filosofis dapat membantu. Pertama, gagasan Jürgen Habermas tentang masyarakat pascasekuler (post-secular society). Ia berargumen bahwa modernitas tidak menghapus agama, melainkan mengubah cara agama hadir di ruang publik. Dalam masyarakat pascasekuler, agama tidak lagi dominan, tetapi tetap relevan sebagai sumber makna yang berdampingan dengan rasionalitas. Apa yang dilakukan Gen Z mencerminkan kondisi ini: mereka tidak mewarisi agama secara pasif, melainkan memilihnya secara reflektif sebagai salah satu cara memahami dunia yang kompleks.

Kedua, konsep Michel Foucault tentang technologies of the self. Dalam perspektif ini, agama dapat dipahami sebagai praktik pembentukan diri melalui disiplin, kontrol diri, dan refleksi etis. Hal ini menjelaskan mengapa religiusitas Gen Z kerap berjalan paralel dengan tren self-improvement, seperti gaya hidup sehat, mindfulness, hingga upaya mengurangi ketergantungan pada media sosial. Dalam konteks ini, agama bukan hanya sistem keyakinan, tetapi juga alat untuk mengelola diri di tengah tekanan modernitas.

Perubahan ini semakin jelas melalui peran media sosial. Agama kini tidak hanya hadir di mimbar atau ruang ibadah, tetapi juga di TikTok, Instagram, dan YouTube. Konten dakwah, refleksi spiritual, hingga estetika religius dikemas dalam format singkat, visual, dan mudah dibagikan. Fenomena ini melahirkan figur-figur baru dari “theo-bros” dalam Katolik hingga influencer hijrah dalam Islam yang menjadikan agama sebagai bagian dari identitas digital. Di titik ini, agama mengalami apa yang dapat disebut sebagai “platformisasi”: tidak lagi semata institusi, tetapi juga konten yang beredar dalam logika algoritma. Akibatnya, batas antara iman, identitas, dan gaya hidup menjadi semakin kabur. Menjadi religius tidak hanya berarti percaya, tetapi juga tampil, berbagi, dan terhubung dengan komunitas sejalan.

Baca juga:  Pemilik Akun TikTok “Tersadarkan” Jalani Sidang Perdana Kasus Ujaran Kebencian di Banda Aceh

Menariknya, fenomena ini juga memiliki dimensi gender. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa laki-laki Gen Z cenderung tertarik pada bentuk religiusitas yang menekankan disiplin, struktur, dan kontrol diri. Dalam konteks ini, agama berfungsi sebagai sarana membangun kembali identitas maskulinitas di tengah perubahan norma sosial yang cepat. Sementara itu, perempuan Gen Z sering mengartikulasikan religiusitas dalam bentuk yang lebih ekspresif, komunitarian, dan berbasis pengalaman personal.

Meski demikian, penting untuk tidak terjebak dalam euforia analisis. Tidak ada bukti kuat bahwa institusi agama secara global sedang mengalami lonjakan signifikan dalam jangka panjang. Banyak Gen Z tetap menjauh dari agama, atau memilih bentuk spiritualitas yang lebih cair dan tidak terikat institusi. Hal ini menunjukkan bahwa yang terjadi bukanlah kebangkitan agama dalam arti klasik, melainkan diversifikasi cara beragama.

Dengan demikian, religiusitas Gen Z baik dalam Katolik maupun Islam lebih tepat dipahami sebagai refleksi kebutuhan akan makna, stabilitas, dan arah hidup. Agama menjadi salah satu instrumen untuk menjawab kebutuhan tersebut, berdampingan dengan berbagai alternatif dalam lanskap modernitas. Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah Gen Z kembali religius, melainkan bagaimana mereka mendefinisikan ulang agama di era digital.

Sebab, bisa jadi yang sedang kita saksikan bukan kebangkitan iman dalam pengertian lama, melainkan lahirnya cara beriman yang sepenuhnya baru: tidak lagi semata diwariskan, tetapi dipilih; tidak hanya diyakini, tetapi juga dinegosiasikan; dan tidak sekadar dijalankan, tetapi juga ditampilkan dalam ruang publik yang semakin terhubung. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, agama bagi Gen Z mungkin bukan lagi jawaban final melainkan salah satu cara paling masuk akal untuk tetap bertahan.[]

Berita Populer

Berita Terkait