Dunia Medis Kehilangan Profesor Richard Scolyer Peneliti Kanker Berpengaruh

JAKARTA – Dunia medis kehilangan salah satu peneliti kanker paling berpengaruh. Profesor Richard Scolyer, dokter sekaligus ilmuwan asal Australia yang dikenal berkat terobosan dalam penanganan melanoma dan eksperimen pengobatan kanker otak pada dirinya sendiri, meninggal dunia pada usia 59 tahun setelah hampir tiga tahun berjuang melawan glioblastoma, salah satu jenis kanker otak paling agresif.

Kabar duka tersebut disampaikan keluarga dan koleganya, sebagaimana dilaporkan BBC pada 8 Juni 2026. Sebelum meninggal, Scolyer meninggalkan surat terbuka yang menggambarkan keinginannya untuk tetap berkontribusi bagi dunia medis hingga akhir hayat.

Idul Adha 1447 H

“Saya ingin terus berkontribusi, bahkan pada saat-saat tergelap dalam hidup saya,” tulis Scolyer dalam surat yang dipublikasikan setelah kematiannya.

Menjadi Pasien Pertama Terapi Kanker Otak Eksperimental

HARI LAHIR PANCASILA

Scolyer bukan hanya seorang dokter, tetapi juga menjadi pasien pertama di dunia yang menerima pendekatan eksperimental untuk mengobati glioblastoma yang dideritanya.

Pada 2023, saat berusia 56 tahun, ia didiagnosis mengidap glioblastoma tipe IDH wild-type. Jenis kanker ini dikenal sangat agresif dengan angka harapan hidup rata-rata sekitar 12 bulan.

Alih-alih hanya menjalani terapi standar, Scolyer memilih menjadi “patient zero” dalam pendekatan yang diadaptasi dari penelitian melanoma yang selama bertahun-tahun ia kembangkan bersama Profesor Georgina Long di Melanoma Institute Australia.

Pendekatan tersebut menggunakan kombinasi imunoterapi yang diberikan sebelum operasi pengangkatan tumor, sesuatu yang belum pernah dilakukan pada pasien kanker otak sebelumnya. Selain itu, ia juga menerima vaksin kanker yang dirancang secara khusus berdasarkan karakteristik tumornya.

Baca juga:  Perwira Tinggi Angkatan Darat Lebanon Tewas dalam Serangan Udara Israel

“Kanker ini tidak dapat disembuhkan? Ya, saya tidak mau begitu saja menerimanya,” kata Scolyer kepada BBC pada 2024.

Meski peluang kesembuhan disebut sangat kecil, hasil awal terapi menunjukkan respons yang menjanjikan. Scolyer mampu bertahan hidup hampir tiga tahun setelah diagnosis, jauh lebih lama dibandingkan rata-rata pasien dengan jenis kanker yang sama.

Pada Januari 2026, ia mengaku masih terkejut bisa bertahan sejauh itu.

“Saya benar-benar tak menyangka masih ada di sini. Rata-rata harapan hidup untuk kanker yang saya miliki sekitar 12 bulan. Tetapi saya masih hidup lebih dari dua setengah tahun kemudian,” ujarnya, seperti dikutip ABC News pada 7 Juni 2026.

Temuan dari terapi yang dijalaninya kemudian dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine dan menjadi dasar bagi uji klinis yang kini berlangsung di Amerika Serikat. Uji klinis tersebut bertujuan menilai apakah hasil yang diperoleh pada Scolyer dapat direplikasi pada pasien glioblastoma lainnya.

Mengubah Wajah Pengobatan Melanoma

Sebelum diagnosis kanker otak mengubah hidupnya, Scolyer telah lama dikenal sebagai salah satu pakar melanoma terkemuka dunia. Bersama Georgina Long, ia membantu mengembangkan pendekatan imunoterapi yang secara signifikan meningkatkan peluang hidup pasien melanoma stadium lanjut.

Tingkat kelangsungan hidup pasien melanoma yang telah menyebar kini meningkat drastis dibandingkan satu dekade lalu berkat penelitian yang mereka kembangkan.

Baca juga:  ATR/BPN Serahkan 1.029 Sertipikat Tanah Wakaf kepada Badan Hukum Keagamaan

Atas kontribusinya tersebut, Scolyer dan Long dianugerahi gelar Australian of the Year 2024. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut Scolyer sebagai salah satu sosok paling inspiratif yang dimiliki negaranya.

“Setiap hari, pria luar biasa ini membawa kita masuk ke dalam perjuangannya dan mengangkat semangat kita semua dalam prosesnya,” kata Albanese.

Pesan Terakhir Richard Scolyer

Di tengah perjuangannya melawan penyakit, Scolyer terus membagikan perjalanan hidupnya kepada publik melalui media sosial dan berbagai wawancara. Ia berharap kisahnya tidak hanya memberikan harapan bagi pasien kanker, tetapi juga mendorong kemajuan penelitian medis.

Dalam surat perpisahannya, Scolyer meminta para ilmuwan untuk tetap berani menembus batas dan terus mencari terobosan baru.

“Tetaplah ingin tahu dan berani. Teruslah berusaha membuka jalan baru,” tulisnya.

Ia juga mengajak pasien kanker untuk mempertimbangkan partisipasi dalam penelitian dan uji klinis. Menurut Scolyer, salah satu pelajaran terbesar yang ia dapatkan selama menghadapi kanker adalah bahwa penyakit tidak mendefinisikan seseorang.

“Kanker mungkin menjadi jalan yang sedang kita lalui saat ini, tetapi itu bukan keseluruhan perjalanan hidup kita,” tulisnya.

Warisan terbesar Richard Scolyer mungkin bukan hanya riset yang ia tinggalkan, melainkan juga keberaniannya menjadikan dirinya sendiri bagian dari upaya menemukan harapan baru bagi pasien kanker otak di masa depan.[]

Berita Populer

Berita Terkait