Bukan Jokowi atau Gibran, Anies dan Ganjar Justru Bantu Prabowo Menang Pilpres 2024

JAKARTA – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo disebut menjadi faktor yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap kemenangan Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2024.

Pegiat politik, sosial, dan ekonomi, Arif Wicaksono, menilai kemenangan Prabowo tidak terlepas dari terbaginya suara di antara dua rivalnya, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, pada Pilpres 2024.

Pada Pilpres 2024, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memperoleh 96.214.691 suara, sementara pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar meraih 40.971.906 suara dan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD memperoleh 27.040.878 suara.

Selain itu, menurut Arif, Prabowo juga mendapat dukungan dari sejumlah partai politik yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM), termasuk Partai Gerindra dan Partai Golkar yang memiliki jaringan politik di berbagai daerah.

Baca juga:  Cakupan Konektivitas Tembus 90 Persen, Pemerintah Dorong Peningkatan Kualitas 5G

Arif juga mengingatkan bahwa pada Pilpres 2019, Prabowo telah memperoleh 44,50 persen suara nasional saat berhadapan dengan Joko Widodo yang berstatus sebagai petahana.

Karena itu, Arif membantah anggapan bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka maupun Joko Widodo menjadi faktor penentu kemenangan Prabowo pada Pilpres 2024.

“Bukan Gibran, bukan Jokowi. 2019 Prabowo sudah 44% lawan petahana. 2024 lawan terbelah Anies-Ganjar, koalisi gendut, mesin Gerindra-Golkar jalan,” tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Senin (28/9).

Menurut Arif, terbaginya suara di Jawa Tengah dan Bali yang selama ini dikenal sebagai basis PDI Perjuangan lebih disebabkan oleh tidak optimalnya kerja mesin partai. Ia menilai kondisi tersebut bukan semata-mata akibat pengaruh Jokowi maupun Gibran.

Baca juga:  Kapolri Pastikan Polri Kawal Muktamar Muhammadiyah agar Aman dan Sukses

Ia juga menyinggung hasil Pemilu Legislatif 2024 yang menunjukkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memperoleh sekitar 2,8 persen suara dan tidak mendapatkan kursi di DPR RI.

“Jateng-Bali pecah karena mesin PDIP di Jateng-Bali tidak bekerja optimal, bukan karena anak-bapak sakti. Fakta paling jujur: PSI tetap 2,8% nol kursi. Yang menang peta, bukan dinasti,” tandasnya.[]

Berita Populer

Berita Terkait