JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas. Pakistan dilaporkan telah mengerahkan 8.000 tentara, satu skuadron jet tempur, serta sistem pertahanan udara buatan China ke Arab Saudi sebagai bagian dari pakta pertahanan bersama kedua negara.
Laporan tersebut disampaikan Reuters pada Senin. Disebutkan, pengerahan itu menambah jumlah pasukan dan aset militer Pakistan di Arab Saudi sejak awal April 2026.
Pakistan mengirim satu skuadron yang terdiri dari sekitar 16 pesawat tempur, mayoritas jenis JF-17 yang diproduksi bersama China. Selain itu, Islamabad juga mengerahkan sistem pertahanan udara HQ-9 buatan China.
Kehadiran persenjataan canggih China di Arab Saudi dinilai tumpang tindih dengan sistem pertahanan berteknologi tinggi buatan Amerika Serikat yang telah lebih dulu beroperasi di negara tersebut.
Arab Saudi diketahui memiliki sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD, bahkan kerajaan itu disebut memiliki persediaan pencegat Patriot terbesar di kawasan Teluk.
Pengerahan aset militer tersebut disebut menggarisbawahi upaya Islamabad dalam menjawab kekhawatiran keamanan Arab Saudi di tengah meningkatnya eskalasi kawasan. Reuters juga melaporkan, perjanjian pertahanan itu membuka kemungkinan pengerahan hingga 80 ribu tentara Pakistan untuk membantu mengamankan perbatasan kerajaan.
Kesepakatan tersebut turut mencakup pengerahan kapal perang Pakistan, meski Reuters belum dapat memverifikasi apakah kapal-kapal itu telah tiba di Arab Saudi.
Situasi keamanan kawasan semakin rumit setelah Selat Hormuz dilaporkan efektif tertutup akibat blokade yang saling bersaing antara Iran dan Amerika Serikat. Sementara itu, akses ke pantai Laut Merah Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb juga dinilai rawan karena sebelumnya kelompok Houthi pernah menyerang kapal-kapal di wilayah tersebut.
Hubungan Historis
Arab Saudi dan Pakistan memiliki hubungan keamanan yang telah terjalin lama. Kerja sama itu kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Islamabad diketahui sempat memediasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada April lalu. Arab Saudi mendukung negosiasi tersebut dan kemudian memperpanjang bantuan keuangan kepada Pakistan.
Kedua negara juga dilaporkan membahas perluasan pakta keamanan dengan melibatkan Turki. Di sisi lain, Arab Saudi disebut memanfaatkan dukungan persenjataan Pakistan untuk menarik sejumlah aktor regional keluar dari pengaruh Uni Emirat Arab (UEA).
Media Middle East Eye (MEE) pada April lalu melaporkan Pakistan mengirim lima pesawat kargo berisi senjata kepada pemerintah Libya timur yang dipimpin Khalifa Haftar. Pengiriman itu disebut sebagai bagian dari kesepakatan yang didanai Arab Saudi.
Trump Ancam Iran
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga terus meningkat. Laporan New York Times menyebut Washington dan Israel mulai mempersiapkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran.
Presiden Amerika Serikat mendesak Iran segera menyetujui proposal perdamaian yang ditawarkan Washington.
“Mereka sebaiknya segera bergerak, cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka,” tulisnya di platform Truth Social.
“Waktu sangat penting!” lanjutnya.
Pernyataan itu disampaikan usai presiden berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Ahad, sebagaimana dilaporkan Times of Israel mengutip kantor Netanyahu.
Pada Senin, Iran menyatakan telah merespons proposal terbaru Amerika Serikat dan menegaskan komunikasi dengan Washington masih berlangsung melalui mediator Pakistan.
“Seperti yang kami umumkan kemarin, kekhawatiran kami telah disampaikan kepada pihak Amerika,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dalam konferensi pers yang dilaporkan AFP.
Media Iran sebelumnya melaporkan Amerika Serikat belum memberikan konsesi konkret kepada Teheran. Kantor berita semi-resmi Mehr menyebut minimnya kompromi berpotensi menyebabkan kebuntuan dalam proses negosiasi.[]


