SABANG – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Sabang, Andri Nourman, mendorong penguatan sektor pertanian berbasis gampong sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan daerah.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri panen perdana jagung pipil yang dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Tahareukat Gampong Balohan, Kecamatan Sukajaya. Dari lahan seluas satu hektare, panen tersebut menghasilkan sekitar dua ton jagung pipil.
Menurut Andri, hasil panen tersebut menjadi awal yang baik bagi pengembangan komoditas jagung pipil di Kota Sabang, khususnya dalam memenuhi kebutuhan bahan baku pakan ternak yang terus meningkat.
“Hari ini kita melihat hasilnya cukup baik walaupun belum maksimal, namun ini menjadi langkah awal yang positif bagi petani dan tidak berhenti sampai di sini. Kebutuhan pakan ternak cukup tinggi, dan Pemerintah Kota Sabang akan terus memberikan dukungan melalui bantuan bibit serta kolaborasi dengan berbagai pihak,” katanya, Selasa (28/4).
Ia berharap pengembangan komoditas jagung pipil dapat terus berlanjut dengan hasil yang lebih optimal melalui dukungan berkelanjutan serta keterlibatan aktif masyarakat, guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian petani di daerah.
Panen perdana ini merupakan bagian dari program pengembangan ekonomi masyarakat yang diinisiasi oleh BUMG Tahareukat Gampong Balohan. Pengelolaan lahan dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat sejak tahap pembukaan hingga penanaman, dengan melibatkan sekitar 20 orang warga setempat.
Keuchik Gampong Balohan, Abdullah Imum, menyampaikan bahwa program tersebut menjadi langkah awal dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan lahan produktif.
“Untuk lahan yang dipanen saat ini kurang lebih sekitar satu hektare. Hasilnya memang belum maksimal karena ini merupakan pengalaman pertama, namun seluruh tanaman tumbuh dengan baik. Ke depan akan kita evaluasi agar hasilnya dapat lebih optimal,” katanya.
Sementara itu, Ketua BUMG Tahareukat, Deni Asmarizal, menjelaskan bahwa masa tanam jagung pipil berlangsung sekitar empat bulan dengan hasil panen diperkirakan mencapai dua ton. Ia mengungkapkan kendala utama selama proses tanam hingga panen adalah serangan hama monyet, khususnya pada malam hari.
“Kendala utama selama proses tanam hingga panen adalah hama monyet. Ke depan, kami akan memperbaiki pola dan jarak tanam agar sesuai standar sehingga hasil dapat lebih maksimal,” ujarnya.
Hasil panen jagung pipil tersebut selanjutnya akan dipasok kepada penampung untuk diolah menjadi pakan ternak dengan kisaran harga sekitar Rp11.000 per kilogram.[]


