JAKARTA – Kejadian mengejutkan terjadi di Berlin, Jerman, pada Rabu, 23 April 2026.
Reza Pahlavi, tokoh oposisi Iran sekaligus putra Shah terakhir Iran, menjadi sasaran lemparan saus tomat usai menghadiri konferensi pers di Bundespressekonferenz (Konferensi Pers Federal Jerman).
Insiden terjadi saat Pahlavi keluar dari lokasi acara. Seorang pria dari tengah kerumunan tiba-tiba melemparkan saus tomat ke arah punggungnya.
Dalam video yang beredar di media sosial, Reza Pahlavi terlihat tetap berjalan tenang meskipun jasnya terkena saus tomat. Ia tidak menunjukkan reaksi berlebihan dan terus melangkah didampingi petugas keamanan.
Petugas keamanan yang berada di lokasi dengan sigap mengamankan pelaku di tengah kerumunan, yang saat itu membawa bendera Iran pra-revolusi dan bendera Jerman.
Otoritas setempat memastikan bahwa zat yang digunakan adalah saus tomat, bukan cat seperti yang sempat disebut-sebut sebelumnya. Meski terlihat sepele, tindakan tersebut tetap dikategorikan sebagai serangan karena dilakukan secara sengaja di ruang publik yang dipadati media massa dan pendukung.
Peristiwa ini kembali menyoroti dinamika politik Iran di pengasingan yang kerap memicu ketegangan di ruang publik, terutama di negara-negara Barat yang menjadi tempat tinggal para tokoh oposisi.
Berikut sejumlah komentar warganet yang mencerminkan beragam reaksi:
@pendukung_reza: “Reza Pahlavi menunjukkan kelasnya. Kena lempar saus, tetap tenang, tidak terpancing emosi. Ini pemimpin sejati.”
@netizen_jerman: “Untung cuma saus tomat. Kalau benda keras bisa berbahaya. Keamanan acara publik harus lebih ketat.”
@sejarah_iran: “Reza Pahlavi memang tokoh kontroversial bagi sebagian orang Iran. Namun, aksi kekerasan sekecil apa pun di ruang publik tidak bisa dibenarkan.”
@humor_politik: “Padahal lagi musim tomat mahal di Eropa. Sayang banget sausnya dilempar sia-sia.”
@waspada_global: “Ini tanda ketegangan politik Iran di pengasingan makin meningkat. Khawatir akan ada aksi lebih serius berikutnya.”
Insiden lemparan saus tomat ini mungkin terlihat kecil dan menggelikan bagi sebagian orang. Namun, jika dicermati, peristiwa ini mencerminkan ketegangan politik lintas negara yang belum mereda.
Reza Pahlavi, sebagai putra mendiang Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi Iran 1979, hingga kini masih menjadi figur yang memecah belah.
Di satu sisi, ia didukung oleh kalangan pro-monarki dan oposisi Republik Islam Iran. Di sisi lain, ia juga mendapat penolakan dari kelompok pro-rezim maupun pihak yang menilai dinasti Pahlavi memiliki rekam jejak kelam.
Sikap tenang Reza Pahlavi patut diapresiasi karena tidak terpancing provokasi. Namun, pengamanan acara publik yang dipadati media juga perlu menjadi perhatian. Beruntung, benda yang dilempar bukan sesuatu yang berbahaya.
Otoritas Jerman diharapkan mengusut motif pelaku, apakah sekadar aksi spontan, bentuk protes politik, atau ada faktor lain di baliknya. Apa pun alasannya, kekerasan bukanlah cara yang dapat dibenarkan untuk menyelesaikan perbedaan politik.[]


