PALANGKA RAYA — Sebuah inovasi cairan pemadam bernama Shabodama dikembangkan untuk menghadapi karakter kebakaran di lahan gambut yang dikenal sulit ditangani. Inovasi tersebut dikembangkan oleh AKBP Dr. Edia Sutaata melalui riset dan pengujian lapangan bersama Universitas Palangka Raya.
Edia yang sehari-hari menjabat Kabagwassidik Ditreskrimsus Polda Kalteng menjelaskan, Shabodama merupakan cairan khusus yang dicampurkan dengan air. Cairan tersebut diklaim dapat membantu mempercepat proses pemadaman, terutama di medan yang sulit seperti lahan gambut maupun tanah mineral.
“Berdasarkan uji coba lapangan dan riset akademik yang telah ditempuh sejak tahun 2019, cairan ini memiliki sejumlah keunggulan komparatif dibandingkan metode konvensional,” ujar Edia, Kamis (3/9/2026).
Salah satu keunggulan yang dikemukakan adalah kemampuan cairan tersebut untuk meresap lebih cepat. Dengan demikian, cairan tidak hanya bekerja untuk memadamkan api di permukaan, tetapi juga diharapkan dapat menjangkau bagian lahan yang terbakar.
Formula tersebut juga diklaim lebih hemat dalam penggunaan air. Edia menyebut campuran dua liter Shabodama dengan 2.000 liter air bersih mampu menghasilkan daya padam yang cepat dan luas.
“Ini adalah solusi taktis bagi penanggulangan karhutla di lahan gambut. 2.000 liter air bersih dicampur dengan 2 liter cairan Shabodama sudah mampu menghasilkan daya padam yang masif dan cepat,” katanya.
Pengembangan inovasi tersebut tidak dilakukan secara instan. Menurut Edia, riset dan implementasi cairan Shabodama telah dilakukan sejak 2015 di sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah.
“Pengujian dan penerapannya antara lain dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau ketika dirinya menjabat Waka Polres Pulang Pisau, kemudian di Palangka Raya, Sampit hingga Pangkalan Bun,” ujarnya.
Pengalaman menghadapi karhutla secara langsung menjadi salah satu alasan pengembangan metode tersebut terus dilakukan. Karakter lahan gambut yang mudah terbakar dan dapat menyimpan bara di bawah permukaan membuat proses pemadaman kerap membutuhkan waktu serta volume air yang besar.
“Tak berhenti di Kalteng, cairan tersebut juga telah dikirim untuk diuji coba dalam penanganan karhutla di Provinsi Riau,” kata Edia.
Edia berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat strategi pemadaman karhutla, khususnya di wilayah yang memiliki hamparan lahan gambut yang luas.
“Meski demikian, penerapan di lapangan tetap membutuhkan pengujian dan evaluasi secara berkelanjutan untuk memastikan efektivitas, keamanan serta dampaknya terhadap lingkungan dalam berbagai kondisi kebakaran,” pungkasnya.[]


