TAHERAN – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terang-terangan mengatakan bahwa Arab Saudi tidak akan mampu membendung kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Peringatan ini disampaikan saat Houthi, yang didukung Iran, terus meningkatkan serangan terhadap Riyadh beberapa waktu terakhir.
“Arab Saudi pastinya tidak akan mampu membendung Yaman dan Ansarullah (nama lain untuk Houthi-red), atau terhindar dari serangan-serangan mereka,” kata juru bicara IRGC Hossein Mohebi, kepada Defa Press, seperti dilansir AFP, Jumat (21/8/2026).
“Seperti yang telah kita saksikan beberapa hari terakhir, semakin gencar Arab Saudi melancarkan serangan, semakin keras pula serangan balasan yang mereka terima,” tegas Mohebi.
Bulan lalu, Yaman menjadi front terbaru yang terbuka dalam konflik Timur Tengah yang meletus pada 28 Februari, dengan diawali oleh serangan gabungan skala besar Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Konflik antara Houthi dan Saudi yang sempat mereda beberapa tahun terakhir selama gencatan senjata diberlakukan, kembali memanas pada awal Juli menyusul kedatangan sebuah pesawat Iran di Sanaa, ibu kota Yaman.
Pesawat itu terpaksa mengalihkan penerbangan setelah bandara di area Sanaa yang dikuasai Houthi, tiba-tiba diserang oleh pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi. Situasi kemudian beralih menjadi aksi saling menyerang antara Houthi dengan pasukan pemerintah Yaman dan koalisi pimpinan Saudi.
Houthi juga mengumumkan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi, juga terhadap kapal-kapal Riyadh di Laut Merah.
Yaman telah dilanda perang selama lebih dari satu dekade terakhir. Pertempuran terbaru ini telah membatalkan gencatan senjata yang diberlakukan sejak tahun 2022 antara Houthi dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dan didukung Saudi.
Pekan ini, seorang Menteri Yaman mengatakan kepada AFP bahwa kelompok pemberontak Houthi berencana merebut wilayah di sepanjang Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan gerbang masuk Laut Merah.
Langkah itu akan memungkinkan Houthi untuk semakin mengancam jalur pelayaran vital tersebut.
Tiga sumber militer Houthi dan seorang juru bicara pasukan pemerintah Yaman juga mengatakan kepada AFP bahwa para pemberontak berencana untuk bergerak maju ke arah selatan dari wilayah-wilayah yang mereka kuasai saat ini.[]




