JAKARTA – Para pelaut Amerika Serikat (AS) di kapal induk USS Abraham Lincoln mengalami ketegangan setelah berbulan-bulan di laut dan perpanjangan penugasan berulang kali di tengah perang melawan Iran. Setidaknya dua pelaut dilaporkan mencoba bunuh diri dengan melompat ke laut tapi berhasil dicegah.
Dilaporkan juga ada satu personel sempat jatuh ke laut dan diselamatkan. Para awak kapal juga dilaporkan menghadapi kekurangan persediaan dasar, masalah sanitasi, gangguan pengiriman surat, dan penjatahan makanan yang ketat selama penugasan yang berkepanjangan.
Ada juga laporan yang mengatakan bahwa tujuh tentara tewas berkelahi di atas kapal induk USS Abraham Lincoln. Namun, informasi tersebut dibantah Komando militer Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas Timur Tengah, CENTCOM.
Bantahan itu disampaikan dalam unggahan di media sosial X, dilansir media CGTN, Jumat (14/8/2026).
“Selama 48 jam terakhir, berbagai media telah melaporkan beberapa klaim palsu terkait penempatan USS Abraham Lincoln (CVN 72) ke Timur Tengah. Satu laporan menuduh tujuh pelaut tewas dalam perkelahian di atas kapal induk dan laporan lain baru-baru ini, menyebutkan adanya peningkatan niat bunuh diri. Laporan-laporan ini SALAH,” tulis CENTCOM.
“USS Abraham Lincoln mempertahankan salah satu tingkat perpanjangan masa tugas awak kapal tertinggi (84,4%) di antara semua kapal induk di Angkatan Laut AS. Para pelaut dan marinir dari Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln tetap tangguh dan gigih setelah lebih dari 260 hari di laut, 10.000 penerbangan pesawat, dan 1,5 juta pon amunisi yang digunakan,” imbuh militer AS tersebut.
CENTCOM menyatakan tidak ada personel militer yang tewas, namun diakuinya ada satu pelaut yang jatuh ke laut tapi diselamatkan. Tidak disebutkan penyebab pelaut tersebut jatuh ke laut.
“Tidak ada anggota militer di atas kapal induk yang meninggal, dan satu pelaut yang jatuh ke laut pada 3 Agustus dengan cepat dan aman telah diselamatkan. Pemberitaan yang salah tentang penempatan bersejarah Abraham Lincoln merugikan para prajurit kita dan orang-orang yang mereka cintai,” imbuh CENTCOM.
Peristiwa itu terjadi saat penasihat kepala CENTCOM, Brad Cooper mendatangi para pelaut dan marinir untuk menanggapi keluhan keluarga mereka soal masa tugas yang terlampau lama.
Saat itu, penasihat tersebut dikabarkan dilempari botol dan dicemooh. Kekacauan berubah menjadi perkelahian yang melibatkan pisau dan senjata tajam lain.
Tujuh orang dilaporkan tewas dan beberapa lainnya terluka.
AS Kirim Kapal Pengganti
Kemudian, AS mengerahkan kapal induk USS George Washington ke perairan Timur Tengah beberapa waktu terakhir. Pengerahan ini dimaksudkan untuk menggantikan kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah menjalani misi pengerahan panjang di Timur Tengah, selama perang melawan Iran berkecamuk.
Informasi ini, seperti dilansir Al Arabiya dan Eurasia Business News, Jumat (14/8/2026), terungkap dalam pernyataan terbaru Angkatan Laut AS dan informasi open-source mengenai pergerakan kapal induk AS tersebut.
USS George Washington, yang berbasis di Pasifik, menurut pernyataan Angkatan Laut AS, telah mulai bergerak menuju ke kawasan Timur Tengah.
Pengerahan terbaru ini muncul di tengah laporan mengenai masalah kesehatan mental dan pasokan di USS Abraham Lincoln, yang telah menjalani pengerahan panjang di Timur Tengah dalam rangka mendukung operasi militer AS terhadap Iran, termasuk rekor pelayaran tanpa henti selama lebih dari 250 hari.
Rotasi kapal induk AS ini bertujuan untuk mempertahankan kekuatan Angkatan Laut AS di kawasan tersebut, sekaligus memberikan jeda istirahat kepada para awak USS Abraham Lincoln setelah berbulan-bulan menjalankan operasi dalam perang melawan Iran.
Berdasarkan pernyataan Angkatan Laut AS, USS George Washington telah berangkat dari pelabuhan di Da Nang, Vietnam, pekan lalu. Kapal induk tersebut, dengan didampingi sebuah kapal penjelajah dan kapal perusak. kemudian terlihat berlayar melintasi Selat Singapura.
Seorang pejabat Angkatan Laut AS, yang enggan disebut namanya, mengonfirmasi bahwa USS George Washington berada di Selat Malaka, yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
Posisi ini menempatkan kapal induk AS tersebut pada jalur menuju ke Samudra Hindia.
Senator AS Desak Menhan Dipecat
Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer menyerukan pemecatan segera Menteri Pertahanan (Menhan) Pete Hegseth, yang disebutnya “sama sekali tidak kompeten”. Seruan ini disampaikan di tengah laporan tentang kondisi sulit yang dihadapi para personel militer di atas kapal induk USS Abraham Lincoln.
“Ketika Pete Hegseth dinominasikan, semua orang tahu dia sama sekali tidak kompeten,” kata Schumer dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, dilansir Anadolu Agency, Jumat (14/8/2026).
“Sekarang para pelaut pemberani kita membayar harganya dengan cara yang mengerikan dan tak terbayangkan. Pete Hegseth harus segera dipecat,” imbuh senator dari Partai Demokrat itu.
Para awak kapal juga dilaporkan menghadapi kekurangan persediaan dasar, masalah sanitasi, gangguan pengiriman surat, dan penjatahan makanan yang ketat selama penugasan yang berkepanjangan.
Hegseth membantah keterangan para pelaut tersebut, mengatakan bahwa deskripsi kondisi di atas kapal induk telah “sepenuhnya disalahartikan.”
Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat telah menuntut adanya penyelidikan tentang kondisi di atas kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal induk ini menjadi salah satu kapal induk canggih AS yang dikerahkan selama perang melawan Iran berkecamuk.
Hal ini disampaikan menyusul laporan tentang kekurangan makanan, kerusakan pipa, dan krisis kesehatan mental selama penugasan kapal induk yang memecahkan rekor terlama tersebut.[]



