BPS Ungkap Ekonomi Aceh Tumbuh 4,86 Persen, Angka Kemiskinan Masih Meningkat

BANDA ACEHBadan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat perekonomian Aceh pada triwulan II 2026 tumbuh 4,86 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski menunjukkan akselerasi dibanding triwulan sebelumnya, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mampu menekan angka kemiskinan yang justru naik menjadi 12,34 persen pada Maret 2026.

Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengatakan pertumbuhan ekonomi Aceh ditopang oleh meningkatnya aktivitas produksi, konsumsi masyarakat, pembangunan infrastruktur, hingga pemulihan pascabanjir.

“Secara year on year, ekonomi Aceh triwulan II 2026 tumbuh 4,86 persen. Secara quarter to quarter tumbuh 3,77 persen, sedangkan secara kumulatif semester I 2026 tumbuh 4,48 persen,” kata Agus dalam rilis resmi BPS Aceh, Rabu (5/8/2026).

Menurut Agus, peningkatan aktivitas ekonomi dipicu oleh berbagai momentum sepanjang triwulan II, seperti Idul Adha, libur sekolah, long weekend, hingga pencairan THR dan gaji ke-13 ASN.

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan konsumsi masyarakat maupun belanja pemerintah.

Di sektor produksi, meningkatnya pemotongan hewan kurban, kenaikan produksi batu bara dan migas, serta penjualan semen yang tumbuh 12,37 persen turut menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Aceh.

Baca juga:  Menkop: Program KDKMP Wujud Nyata Pemikiran Soemitro Djojohadikusumo

“Rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir, termasuk pembangunan Gedung KDMP, juga mendorong peningkatan aktivitas konstruksi di Aceh,” ujarnya.

Konstruksi Tumbuh Tertinggi

BPS mencatat sektor konstruksi menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 13,36 persen secara tahunan.

Sementara struktur ekonomi Aceh masih didominasi sektor pertanian dengan kontribusi 31,16 persen, disusul perdagangan sebesar 15,35 persen, dan administrasi pemerintahan 9,18 persen.

Adapun sumber pertumbuhan ekonomi terbesar berasal dari sektor perdagangan sebesar 1,25 persen, konstruksi 1,17 persen, serta pertanian 1,06 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari konsumsi pemerintah yang melonjak 22,16 persen, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kemiskinan Naik Tipis

Di tengah pertumbuhan ekonomi tersebut, BPS mencatat persentase penduduk miskin Aceh pada Maret 2026 mencapai 12,34 persen, meningkat 0,12 persen poin dibanding September 2025.

Baca juga:  53 Tahun Bank Aceh Syariah, Hadirkan Transformasi Digital untuk Mendorong Ekonomi Aceh

Kenaikan itu setara dengan bertambahnya sekitar 10,4 ribu penduduk miskin, sehingga totalnya mendekati 714 ribu jiwa.

Agus menjelaskan, data kemiskinan tersebut dihimpun melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan pada Februari 2026, ketika Aceh baru saja terdampak bencana hidrometeorologi.

Selain dampak banjir, peningkatan kemiskinan juga dipengaruhi perlambatan ekonomi pada triwulan I 2026, kenaikan inflasi, meningkatnya tingkat pengangguran terbuka, hingga menurunnya produktivitas padi.

“Kinerja sektor pertanian juga mengalami penurunan akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025, sehingga memengaruhi produksi padi, hortikultura, dan sejumlah komoditas perkebunan,” ujar Agus.

BPS juga mencatat garis kemiskinan di Aceh pada Maret 2026 meningkat menjadi Rp742.464 per kapita per bulan, naik 3,83 persen dibandingkan September 2025.

Komponen makanan masih menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan, yakni 76,86 persen, sedangkan komponen nonmakanan sebesar 23,14 persen.

Menurut Agus, kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan pangan masih menjadi faktor dominan dalam menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat Aceh.[]

Berita Populer

Berita Terkait