Toet Apam dan Bubur Asyura: Jejak Kebersamaan yang Tetap Hidup di Pesisir Pulo Aceh

KOTA JANTHO – Aroma santan yang mengepul dari tungku kayu bakar berpadu dengan harum tepung beras yang mulai matang. Di sudut-sudut gampong di Pulo Aceh, perempuan, laki-laki, hingga anak-anak berkumpul mengelilingi belanga.

Tawa dan percakapan hangat mengiringi setiap proses membalik apam yang mulai dipenuhi pori-pori sempurna. Sementara di tempat lain, kawah besar berisi Bubur Asyura terus diaduk bergantian, menyatukan puluhan bahan menjadi sajian penuh makna.

Begitulah suasana yang selalu hadir setiap memasuki 10 Muharram atau Hari Asyura di Aceh, yang diperingati hari ini, Kamis (25/6/2026) di berbagai kecamatan dan gampong di Kabupaten Aceh Besar.

Bagi masyarakat, momentum ini bukan sekadar peringatan dalam kalender Islam, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat warisan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun melalui tradisi Toet Apam dan memasak Bubur Asyura.

Di Pulo Aceh, tradisi tersebut masih bertahan kuat. Dari generasi ke generasi, masyarakat menjadikannya sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, sekaligus sedekah kepada sesama.

Tradisi Toet Apam bukan sekadar kegiatan memasak kue. Setiap keluarga menyiapkan adonan yang dibuat dari tepung beras, santan, air kelapa, dan sedikit garam. Adonan itu kemudian dimasak menggunakan cetakan atau belanga tanah liat di atas bara kayu bakar.

Proses memasak secara tradisional itu membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Apam yang dianggap sempurna adalah yang memiliki pori-pori halus di permukaannya, tanda adonan matang dengan baik. Setelah selesai, apam disajikan bersama kuah tuhe, kolak santan manis berisi potongan pisang dan nangka, atau cukup ditaburi kelapa parut.

Baca juga:  Guru SMP di Aceh Besar Ikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam

Di balik cita rasanya yang sederhana, apam menyimpan makna mendalam. Setiap lembar yang dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan tamu menjadi simbol berbagi rezeki serta mempererat silaturahmi antar warga.

Tak jauh dari tempat memanggang apam, kawah besar Bubur Asyura juga menjadi pusat perhatian. Puluhan warga bergotong royong mengolah beragam rempah, sayuran, umbi-umbian, dan bahan lainnya menjadi bubur khas yang dikenal masyarakat Aceh sebagai Ie Bu Kanji.

Memasak bubur ini bukan pekerjaan satu atau dua orang. Dibutuhkan banyak tangan untuk memotong bahan, menyiapkan bumbu, menjaga api, hingga mengaduk bubur selama berjam-jam agar menghasilkan cita rasa yang khas.

Ketika matang, bubur kemudian dibagikan kepada masyarakat, santri, dan siapa pun yang datang. Tidak ada sekat antara yang memberi dan menerima. Semua duduk bersama menikmati hidangan yang lahir dari semangat gotong royong.

Bagi masyarakat Aceh, kedua tradisi tersebut merupakan pengingat bahwa kebersamaan selalu menjadi kekuatan utama dalam kehidupan bermasyarakat di Aceh.

Camat Pulo Aceh, Jamaluddin SE, mengatakan tradisi Toet Apam tahun ini berlangsung meriah, baik di Pulo Breuh maupun Pulo Nasi. Antusiasme masyarakat dinilai semakin meningkat seiring adanya ajakan dari Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, agar seluruh gampong terus menghidupkan tradisi tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya daerah.

Baca juga:  Ditpolairud Polda Aceh Bantu Evakuasi Jenazah ABK KM Emirates yang Meninggal Saat Melaut

Menurutnya, pelaksanaan tradisi bukan hanya mempertahankan kuliner warisan leluhur, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat.

Di tengah derasnya arus modernisasi, ketika makanan cepat saji semakin mudah ditemukan dan budaya luar begitu cepat masuk, masyarakat Pulo Aceh memilih tetap setia menjaga warisan yang mereka terima dari para pendahulu.

‘Toet Apam dan Bubur Asyura mengajarkan bahwa sebuah tradisi bukan sekadar tentang makanan. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih, tentang sedekah yang dilakukan dengan ikhlas, dan tentang identitas masyarakat Aceh yang terus hidup di setiap generasi,” ungkap Jamaluddin, Kamis (25/6/2026).

Seperti di Gampong Pasie Janeng dan Lamteng, Pulo Nasi, warga sejak pagi telah berkumpul untuk memperingati 10 Muharram (Hari Asyura) dengan kegiatan Toet Apam dan Bubur Asyura.

Selama asap tungku kayu bakar masih mengepul di halaman rumah-rumah warga dan sendok pengaduk Bubur Asyura masih bergantian dipegang oleh masyarakat, selama itu pula denyut kebudayaan Aceh akan terus hidup, yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu cita rasa yang tak lekang oleh waktu. []

Berita Populer

Berita Terkait