TAHERAN – Iran kembali melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk pada Sabtu (6/6/2026). Kali ini, sasaran serangan adalah pangkalan-pangkalan AS yang berada di Kuwait dan Bahrain.
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa Iran menembakkan sejumlah rudal balistik ke arah kedua negara tersebut. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah militer AS menembak jatuh empat drone Iran yang dinilai mengancam lalu lintas maritim di kawasan.
Melalui pernyataan resmi di media sosial X, Centcom menyatakan bahwa pasukan AS berhasil mencegat sejumlah rudal balistik dan drone Iran yang diarahkan ke Selat Hormuz serta beberapa negara Teluk.
Di sisi lain, Iran menyebut serangan tersebut sebagai aksi balasan atas operasi militer Washington sebelumnya di wilayah Sirik dan Pulau Qeshm.

“Menyusul invasi teroris tentara AS yang membunuh anak-anak di Sirik dan Pulau Qeshm, pangkalan-pangkalan musuh di wilayah tersebut dihantam oleh rudal udara,” demikian laporan stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, mengutip pernyataan resmi Garda Revolusi Iran (IRGC).
Peluncuran rudal tersebut memicu aktivasi sistem pertahanan udara di sejumlah negara tetangga Iran. Pemerintah Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya segera merespons untuk menghalau drone dan rudal yang diluncurkan IRGC.
Insiden ini menimbulkan kekhawatiran karena terjadi hanya beberapa hari setelah serangan di Bandara Internasional Kuwait yang menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya.
“Staf Umum Angkatan Bersenjata Kuwait mengonfirmasi bahwa setiap ledakan yang mungkin terdengar merupakan hasil dari sistem pertahanan udara yang mencegat serangan musuh,” tulis militer Kuwait melalui akun resminya di X.
Sementara itu, suasana mencekam juga terjadi di Bahrain. Sirene peringatan serangan udara terdengar di berbagai wilayah negara tersebut pada Sabtu dini hari. Otoritas setempat langsung mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan segera mencari perlindungan.
“Warga dan penduduk diimbau untuk tetap tenang dan menuju tempat aman terdekat,” demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Bahrain melalui X.
Respons atas Aksi Militer AS
Serangan Iran ini terjadi setelah militer AS menembak jatuh empat drone Iran yang dinilai mengancam keselamatan pelayaran internasional.
Selain itu, Washington juga melancarkan serangan udara terhadap sejumlah instalasi radar Iran di kawasan pesisir selatan negara tersebut pada Jumat (5/6/2026).
Target serangan meliputi situs radar pengawas pantai di Kota Goruk dan Pulau Qeshm. Centcom menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan navigasi internasional.
“Drone serang tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional,” kata Centcom.
Menurut Centcom, serangan terhadap instalasi radar Iran dilakukan sebagai langkah pertahanan diri guna mencegah serangan lanjutan.
Di sisi lain, militer Iran mengklaim telah menembakkan rudal peringatan ke arah dua kapal perusak milik AS yang beroperasi di Teluk Oman pada Jumat (5/6/2026).
Meningkatnya aksi saling serang antara kedua negara menambah ketegangan di kawasan Teluk dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah.[]



