Usai Teddy, Amien Rais Sentil IKN: Dari Tanah Gembur hingga “Mission Impossible” Prabowo

BANDA ACEH –  Tokoh senior nasional Amien Rais melontarkan kritik keras terhadap proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang kini menjadi salah satu agenda besar pemerintahan Prabowo Subianto.

Dalam kanal YouTube pribadinya, Amien menyebut tantangan pembangunan IKN bukan sekadar teknis, melainkan menyentuh aspek fundamental yang bisa menentukan masa depan proyek tersebut.

Amien mengingatkan bahwa rencana pemindahan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara ditargetkan mulai berfungsi sebagai ibu kota politik pada 17 Agustus 2028. Ia merujuk pernyataan pemerintah yang ingin merampungkan gedung-gedung utama, termasuk legislatif dan yudikatif, sebelum tenggat tersebut.

Namun, dari pengamatan langsungnya di lokasi, Amien mengaku menyimpan keraguan. Ia menggambarkan kondisi tanah di kawasan IKN yang tidak rata, cenderung berbukit, serta memiliki struktur yang menurutnya “agak gembur”. Ditambah keberadaan aliran sungai kecil dan potensi genangan saat musim hujan, ia menilai tantangan geografis ini tidak bisa dianggap remeh.

Baca juga:  Tunjukkan Dominasi, Pebalap Belia Astra Honda Melesat di Thailand Talent Cup 2026

“Kalau hujan besar, lumpur bisa menggenangi jalan-jalan yang sudah dibangun,” ujarnya, menggambarkan kondisi lapangan yang ia lihat sendiri.

Tak hanya soal teknis, Amien juga menyinggung aspek pembiayaan. Ia mengingatkan bahwa proyek ini telah menelan anggaran puluhan triliun rupiah sejak awal pembangunan, dan mempertanyakan kelanjutan pendanaan, terutama dari investor asing yang dinilai belum menunjukkan realisasi signifikan.

Dalam kritiknya, ia turut menyinggung era Joko Widodo, khususnya terkait klaim masuknya investor asing ke proyek IKN. Amien menilai optimisme tersebut tidak sepenuhnya tercermin dalam realisasi di lapangan.

Baca juga:  Harga Emas di Banda Aceh Turun ke Rp7,76 Juta per Mayam

Puncaknya, ia menyebut target besar Presiden Prabowo untuk berkantor di IKN sebagai tantangan yang sangat berat. Bahkan, dengan nada skeptis, ia menyebutnya berpotensi menjadi “mission impossible” jika berbagai persoalan tidak ditangani secara serius dan terukur.

Meski demikian, Amien tetap membuka ruang koreksi. Ia menyatakan siap mengakui kekeliruan jika proyek tersebut benar-benar berhasil sesuai target.

Pernyataan ini menambah deretan suara kritis terhadap proyek IKN—sebuah megaproyek yang tak hanya menguji kemampuan teknis pembangunan, tetapi juga daya tahan politik, ekonomi, dan kepercayaan publik.[]

Berita Populer

Berita Terkait