Trump-Iran Terus Bersitegang, Jalan Menuju Damai Masih Buntu

BANDA ACEH – Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran belum ada ujung damainya. Kedua pimpinan negara terus berseteru.

Di Sidang Majelis Umum PBB di New York pekan lalu, Iran mengumumkan usulan perdamaian. Iran menyatakan usulan tersebut telah disampaikan kepada pihak AS melalui mediator Qatar.

Namun, pada Sabtu (26/9), Presiden AS Donald Trump menyatakan menolak rencana tersebut dan berpendapat desakan Iran untuk mencapai kesepakatan mengenai jalur perairan vital itu didorong oleh keputusasaan.

“Mereka ingin segera membuat kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz karena mereka sedang mengalami kekalahan telak,” ujar Trump di Gedung Putih.

Baca juga:  Hampir 70 Delegasi Walk Out Saat Netanyahu Pidato di PBB

Iran tidak akan memberikan konsesi apa pun terkait hak-haknya, termasuk pengayaan uranium atau pengiriman uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam wawancara dengan acara CBS ‘Face the Nation’, mengatakan Teheran siap untuk melakukan pembicaraan mengenai program nuklirnya dan isu-isu lain, namun tidak akan menerima ‘intimidasi atau paksaan’.

“Iran tidak mencari perang, tetapi akan membela diri dari tekanan, ancaman, dan serangan,” kata Pezeshkian, seraya menambahkan bahwa pihaknya telah menyepakati prinsip bahwa ‘kita tidak boleh mengembangkan senjata nuklir’.

Upaya diplomasi sebelumnya gagal mengakhiri perang, yang bermula pada 28 Februari dengan serangan dari AS dan Israel. Sejak saat itu, perang berlangsung secara bergantian antara masa jeda dan serangan lanjutan dan telah menewaskan ribuan orang serta melemahkan kekuatan konvensional Iran dan merusak ekonominya yang memang sudah terpuruk.

Baca juga:  Spanyol Larang Burqa dan Niqab, Aturan Berlaku di Sejumlah Tempat Umum

Iran dan sekutunya telah membalas dengan memperluas konflik ke seluruh kawasan. Iran menyerang sekutu AS di kawasan Teluk menggunakan pesawat nirawak atau drone dan rudal, sementara sekutu Houthi mereka di Yaman menargetkan kepentingan Arab Saudi yang merupakan salah satu sekutu AS di Timur Tengah.[]

Berita Populer

Berita Terkait