JAKARTA – PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) mengungkap wajah baru pengawasan proyek melalui implementasi teknologi Augmented Reality dan Virtual Reality (AR/VR) yang telah diterapkan pada sejumlah proyek selama 2025.
Hutama Karya melakukan evaluasi atas implementasi teknologi tersebut yang menunjukkan bahwa pemanfaatan AR/VR memberi dampak nyata dalam membantu tim membandingkan rencana dengan kondisi lapangan dengan lebih jelas, mengecek pekerjaan dengan lebih presisi, serta menangkap potensi ketidaksesuaian lebih dini sebelum berlanjut ke tahapan berikutnya.
Di tengah kompleksitas proyek konstruksi yang menuntut ketepatan tinggi, Hutama Karya melihat AR/VR hadir sebagai bagian dari cara kerja yang semakin terukur. Melalui integrasi dengan Building Information Modeling (BIM), teknologi ini membantu mempertemukan desain digital dengan kondisi aktual di lapangan, sehingga proses pengecekan pekerjaan menjadi lebih mudah dipahami oleh tim proyek maupun pemangku kepentingan terkait.
Penerapan AR/VR ini menjangkau sejumlah proyek strategis dan berskala besar yang sedang dikerjakan Hutama Karya, di antaranya Pembangunan Gedung Hunian ASN di Ibu Kota Nusantara (IKN), Gedung MPR RI di IKN, MRT Jakarta Fase 2A Contract Package (CP) 203, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bengkulu, serta Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung.
Pada proyek-proyek tersebut, AR/VR dimanfaatkan untuk memperkuat akurasi pengawasan di lapangan sekaligus memastikan kesesuaian antara desain dan pelaksanaan konstruksi.
Dari hasil evaluasi tersebut, Hutama Karya menunjukkan bahwa implementasi AR/VR secara signifikan ditemukan pada proses pengendalian mutu pekerjaan, disusul sebagai alat bantu visualisasi selama fase konstruksi untuk meningkatkan proses komunikasi dan kolaborasi.
Temuan ini menegaskan bahwa pemanfaatan AR/VR kian terasa pada kebutuhan yang paling dekat dengan lapangan: membantu ketepatan pelaksanaan, memperjelas informasi teknis, dan mengurangi risiko koreksi ulang.
“Bagi Hutama Karya, AR/VR memberi makna baru pada cara memahami teknis konstruksi proyek di lapangan. Ketika desain dapat dipahami lebih utuh dalam konteks kondisi aktual, tim memiliki dasar dengan lebih baik untuk mengecek pekerjaan, menjelaskan situasi teknis, dan mengambil keputusan dengan lebih tepat,” ujar Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani.
Evaluasi tersebut juga menunjukkan bahwa hasil implementasi di setiap proyek dipengaruhi oleh sejumlah faktor penting, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, kualitas perangkat, hingga konektivitas internet di lapangan.
Temuan ini menjadi pijakan penting bagi Hutama Karya untuk terus memperkuat standar implementasi, menyusun alur kerja yang lebih konsisten, dan memastikan teknologi benar-benar memberi nilai tambah bagi proses konstruksi.
Lebih jauh, Hutama Karya memandang AR/VR sebagai bagian dari penguatan transformasi digital yang berorientasi pada manfaat nyata. Teknologi ini membuka cara pandang yang lebih utuh terhadap pekerjaan proyek, menghadirkan kejelasan yang lebih tinggi dalam proses pengawasan, serta memperkuat kualitas pengambilan keputusan pada fase pelaksanaan.
Ke depan, Hutama Karya akan terus mengevaluasi dan mengoptimalkan pemanfaatan AR/VR sesuai kebutuhan proyek, dengan fokus pada fungsi-fungsi yang memberikan dampak paling terasa di lapangan. Melalui langkah ini, perusahaan ingin memastikan bahwa inovasi digital tidak berhenti sebagai simbol kemajuan, tetapi tumbuh sebagai kekuatan operasional yang memperkuat mutu, ketepatan, dan kejelasan dalam setiap proses pembangunan.[]


