Sudaryono Terapkan Transformasi BGN 2.0, MBG Masuk Babak Baru

JAKARTA — Transformasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru melalui pengembangan MBG 2.0 yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas pelayanan, keamanan pangan, dan tata kelola program.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mendorong agar pelaksanaan MBG tidak hanya berorientasi pada jumlah makanan yang disalurkan, tetapi juga pada kualitas dan manfaat yang diterima masyarakat.

Transformasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pelaksanaan MBG, sekaligus mendorong program agar semakin efektif dalam menjawab kebutuhan penerima manfaat. MBG 2.0 menjadi perhatian publik karena menyangkut masa depan program gizi nasional yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Bukan sekadar melanjutkan program, transformasi MBG 2.0 menjadi kesempatan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan memperkuat pelaksanaan MBG. Arah perubahan tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari upaya membangun sistem pemenuhan gizi yang semakin baik dan berkelanjutan,” Ungkap Kepala BGN Sudaryono dalam kegiatan Transformasi MBG 2.0 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Sudaryono menjelaskan, saat ini pengembangan MBG berjalan seiring dengan penguatan tata kelola. Pasalnya, keberhasilan program berskala nasional tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang disalurkan, tetapi juga dari kualitas pelayanan, dan manfaat yang benar-benar diterima masyarakat.

Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah model MBG prasmanan di sekolah. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan pelayanan makan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa, sekaligus memperhatikan kualitas makanan saat disajikan dan dikonsumsi.

Baca juga:  Kapolda Aceh Pimpin Pengambilan Sumpah dan Pakta Integritas Seleksi Dikbang Terpadu Tahun 2027

Melalui model prasmanan, siswa berkesempatan mengambil makanan sesuai kebutuhan dengan tetap mengikuti aturan pelayanan dan ketersediaan makanan. Sistem ini juga membuka peluang untuk mengevaluasi kesesuaian porsi serta mengurangi sisa makanan melalui perencanaan yang lebih baik.

“MBG bukan sekadar membagikan makanan. Kita ingin memastikan makanan yang disajikan berkualitas, aman, memenuhi kebutuhan gizi, dan benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia,” Tutur Sudaryono.

Selain mendukung kualitas penyajian, model prasmanan berpotensi menjadi sarana pendidikan karakter di sekolah. Melalui pendampingan yang tepat, kegiatan makan bersama dapat membiasakan siswa mengantre, menjaga kebersihan, menghargai makanan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Namun, penerapannya tetap membutuhkan kesiapan dapur dan sekolah, pengaturan distribusi yang baik, serta penerapan standar keamanan pangan secara konsisten.

Selain itu, Transformasi MBG 2.0 juga menyentuh aspek tata kelola yang menjadi fondasi keberlanjutan program. Akurasi data penerima manfaat, perencanaan kebutuhan bahan baku, serta kesesuaian jumlah makanan dengan kebutuhan di lapangan merupakan faktor penting untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan.

Sudaryono juga menekankan, pengelolaan anggaran turut menjadi perhatian dalam penguatan program ini. Efisiensi perlu dilakukan melalui perencanaan yang tepat dan pengawasan yang memadai, tanpa mengurangi kualitas makanan maupun standar gizi dan keamanan pangan yang harus dipenuhi.

Baca juga:  Jelang Nataru, Pemerintah Perkuat Operasi Pasar dan Distribusi untuk Jaga Harga Pangan

“Program sebesar MBG membutuhkan tata kelola yang kuat. Inovasi pelayanan harus berjalan seiring dengan pengawasan dan tanggung jawab dalam penggunaan anggaran,” tegas Sudaryono.

Di sisi operasional, keamanan pangan tetap menjadi prioritas. Proses pengadaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian harus dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku agar makanan yang diterima penerima manfaat tetap aman dan berkualitas.

“Pelaksanaan MBG 2.0 juga membutuhkan evaluasi berkelanjutan. Hasil pemantauan terhadap kualitas makanan, tingkat konsumsi, sisa makanan, ketepatan penerima manfaat, dan efisiensi biaya dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pelaksanaan serta menilai kesiapan pengembangan inovasi di berbagai wilayah,” Paparnya.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan MBG tidak hanya dinilai dari luasnya cakupan distribusi, tetapi juga dari konsistensi kualitas pelayanan dan manfaat yang dirasakan penerima. Setiap inovasi perlu diuji dan dievaluasi agar pengembangannya sesuai dengan kebutuhan serta kesiapan pelaksana di lapangan.

“Melalui transformasi MBG 2.0, BGN mendorong penguatan program pemenuhan gizi nasional melalui inovasi pelayanan, pembenahan tata kelola, dan pengawasan yang berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat memastikan bahwa setiap makanan yang disajikan menjadi bagian dari pelayanan gizi yang semakin berkualitas, tepat sasaran, dan bertanggung jawab,” Pungkas Sudaryono.[]

Berita Populer

Berita Terkait