Nezar Patria: AI dan Blockchain Bisa Cegah Kebocoran Perdagangan Nasional

JAKARTA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai pemanfaatan kecerdasan artifisial atau AI yang dipadukan dengan teknologi blockchain dapat membantu mencegah kebocoran dalam sistem perdagangan nasional.

Menurutnya, digitalisasi dari hulu hingga hilir memungkinkan pemerintah dan pelaku usaha mendeteksi titik kehilangan, meningkatkan efisiensi, serta menekan potensi kecurangan.

“Kalau bisa dibuat satu sistem perdagangan yang pencatatannya lebih akurat, kita bisa mencegah kebocoran. Produksinya juga bisa lebih baik karena kita dapat mendeteksi titik-titik kehilangan sehingga optimasi bisa dilakukan,” ujar Nezar saat menerima audiensi Blockchain, Robotics, and Artificial Intelligence Network (BRAIN) IPB University di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026).

Menurut Nezar, blockchain mampu menghadirkan sistem pencatatan transaksi yang transparan dan sulit dimanipulasi, sedangkan AI dapat dimanfaatkan untuk melakukan prediksi permintaan pasar, mengoptimalkan produksi, hingga meningkatkan efisiensi distribusi barang.

Baca juga:  Donny Ermawan Tinggalkan Jabatan Wamenhan, Kini Pimpin Universitas RI

Ia menjelaskan bahwa selama ini setiap perpindahan data, pembayaran, maupun logistik dalam rantai perdagangan selalu menimbulkan biaya tambahan.

Karena itu, digitalisasi secara menyeluruh dari hulu hingga hilir menjadi penting agar proses bisnis berlangsung lebih efisien.

“Setiap perpindahan moda ada cost. Pindah ke platform lain, ada cost lagi. Karena itu sekarang arahnya adalah sistem yang seamlessend-to-end, sehingga proses bisnis menjadi lebih efisien,” tuturnya.

Dalam audiensi tersebut, Kepala Pusat Riset BRAIN IPB Yandra Arkeman memaparkan konsep pemanfaatan AI dan blockchain untuk mendukung pengembangan sistem perdagangan nasional, termasuk gagasan single gate export.

Melalui konsep tersebut, blockchain dimanfaatkan sebagai teknologi pencatatan transaksi, sementara AI digunakan untuk analisis data dan prediksi pasar.

Sementara itu, Nezar menilai pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mendorong transformasi digital sektor produktif, khususnya di bidang agroindustri yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi nasional.

Baca juga:  Polri Hadirkan Sekolah Unggulan Berstandar Dunia, 297 Siswa Mulai Tempati Kampus

“Ini bagus dan sesuai juga dengan misi IPB. Teknologi bisa membantu sistem perdagangan menjadi lebih baik, pencatatannya lebih akurat, dan berbagai potensi fraud dapat ditekan,” katanya.

Lebih lanjut, Nezar mengapresiasi perhatian kalangan akademisi terhadap perkembangan teknologi mutakhir, termasuk quantum computing dan blockchain.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangan inovasi yang mendukung kebutuhan nasional.

“Kita harus terus memasang mata dan telinga terhadap perkembangan teknologi. Yang paling penting adalah bagaimana solusi-solusi digital yang dikembangkan benar-benar dapat dimanfaatkan untuk mendukung program-program strategis nasional,” pungkasnya.[]

Berita Populer

Berita Terkait