BANDA ACEH – Pidato Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, di Hotel Hermes Banda Aceh mendapat apresiasi dari kalangan akademisi.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Syiah Kuala (USK), Nasrul Zaman, menilai pernyataan Bahlil menjadi “garansi moral” yang berpihak pada kepentingan sosiologis masyarakat Aceh, khususnya terkait pengelolaan gas bumi dari Blok Andaman.
“Saat Pak Menteri menyandingkan refleksi kekecewaan Aceh dan Papua di podium Hermes, beliau sedang mengirim pesan kepada SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) global seperti Mubadala Energy bahwa aspek sosial-historis tidak boleh dikalahkan oleh ego kalkulasi bisnis komersial semata. Kami sangat mengapresiasi kepekaan luar biasa dari Pak Menteri ini,” kata Nasrul dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7/2026).
Menurut dia, pernyataan tersebut semestinya menjadi momentum bagi Pemerintah Aceh untuk memperkuat posisi dalam memperjuangkan pengelolaan sumber daya alam yang memberikan manfaat maksimal bagi daerah.
Nasrul menilai keberpihakan Menteri ESDM terhadap aspirasi masyarakat Aceh perlu diwujudkan melalui kebijakan konkret, salah satunya dengan mempertahankan skema pengolahan gas di darat melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, bukan di laut lepas (offshore) sebagaimana pernah diwacanakan.
Ia mengatakan, pengolahan gas di KEK Arun akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibandingkan jika fasilitas pengolahan dibangun di lepas pantai.
Nasrul menilai keberpihakan Menteri ESDM terhadap aspirasi masyarakat Aceh perlu diwujudkan melalui kebijakan konkret, salah satunya dengan mempertahankan skema pengolahan gas di darat melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, bukan di laut lepas (offshore) sebagaimana pernah diwacanakan.
Ia mengatakan, pengolahan gas di KEK Arun akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibandingkan jika fasilitas pengolahan dibangun di lepas pantai.
“Terima kasih Pak Menteri atas komitmen hebat ini. Kini saatnya seluruh komponen di Aceh merapatkan barisan, membenahi tim teknis negosiasi kita, dan bersama-sama pusat mengawal agar Blok Andaman konsisten dibangun di darat demi kemakmuran yang berkeadilan bagi Aceh,” ujar Nasrul.[]


