JAKARTA – Dua kekuatan militer besar dunia, Rusia dan India, memperdalam kerja sama pertahanan melalui perjanjian Pertukaran Timbal Balik Dukungan Logistik (RELOS). Kesepakatan ini tidak sekadar memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga mencerminkan perubahan lanskap geopolitik global yang semakin cair dan kompetitif.
Perjanjian yang mulai berlaku awal tahun ini memungkinkan kedua negara menggunakan pangkalan militer, pelabuhan angkatan laut, serta wilayah udara masing-masing, baik dalam kondisi damai maupun situasi krisis. Dalam praktiknya, Rusia dan India kini dapat menempatkan pasukan, kapal perang, dan pesawat militer secara terbatas di wilayah mitra.
Langkah ini menandai perubahan signifikan, terutama bagi India. Untuk pertama kalinya, New Delhi membuka peluang bagi militer asing untuk menempatkan kekuatan di wilayahnya, meski dalam skema terbatas. Kebijakan ini menunjukkan pergeseran pendekatan India dari sekadar pembeli alutsista menjadi pemain aktif dalam pengaturan logistik militer global.
Secara teknis, RELOS memungkinkan pengerahan hingga 3.000 personel militer, lima kapal perang, dan 10 pesawat di wilayah masing-masing negara. Selain itu, perjanjian ini mencakup dukungan logistik menyeluruh, mulai dari pengisian bahan bakar, perawatan, hingga akses terhadap fasilitas pelabuhan dan lapangan terbang.
Namun makna RELOS jauh melampaui aspek teknis. Bagi Rusia, kesepakatan ini membuka akses strategis ke Samudra Hindia, wilayah yang selama ini berada di luar jangkauan langsung Moskow. Dengan akses tersebut, Rusia dapat memperluas proyeksi kekuatan lautnya di jalur perdagangan global yang krusial.
Sebaliknya, India memperoleh keuntungan geopolitik yang tidak kalah besar. New Delhi kini memiliki akses ke jalur laut utara Rusia, termasuk wilayah Arktik dan Timur Jauh, yang semakin penting dalam konteks perubahan rute perdagangan global dan kompetisi energi.
Kesepakatan ini juga datang di tengah tekanan Barat terhadap Rusia akibat perang di Ukraina, serta upaya Amerika Serikat dan sekutunya membatasi ruang gerak Moskow melalui sanksi ekonomi. Dalam konteks ini, RELOS memberi Rusia alternatif jalur logistik dan memperkuat posisinya di Asia.
Di sisi India, langkah ini mencerminkan strategi “multi-alignment” yang semakin tegas. Di satu sisi, India tetap menjalin kerja sama erat dengan Amerika Serikat, termasuk melalui perjanjian logistik seperti LEMOA. Namun di sisi lain, New Delhi juga mempertahankan kedekatan strategis dengan Rusia.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa India tidak ingin terjebak dalam blok geopolitik mana pun. Sebaliknya, negara tersebut berupaya menjaga otonomi strategis di tengah meningkatnya rivalitas global antara Barat dan kekuatan non-Barat.
Menariknya, RELOS juga menempatkan Rusia pada posisi yang relatif setara dengan Amerika Serikat dalam hal akses logistik militer di India, sesuatu yang sebelumnya tidak terjadi. Hal ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pengaruh Washington di kawasan tidak lagi dominan secara eksklusif, sebagaimana diberitakan Aljazeera.
Para analis menilai, kesepakatan ini bukan aliansi militer formal seperti NATO, melainkan bentuk kerja sama fleksibel yang memungkinkan kedua negara memperluas jangkauan operasional tanpa komitmen perang langsung.
Di tengah dinamika global yang semakin tidak pasti, RELOS mencerminkan tren baru dalam hubungan internasional: negara-negara besar tidak lagi sepenuhnya berpihak, melainkan membangun jaringan kerja sama yang saling menguntungkan di berbagai sisi.
Dengan demikian, pakta Rusia–India ini bukan hanya soal logistik militer, tetapi bagian dari perebutan ruang strategis global. Di saat Barat memperkuat aliansi seperti AUKUS dan NATO, kemitraan seperti RELOS menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan dunia kini semakin multipolar dan sulit diprediksi.
Dampak RELOS bagi Indonesia: Antara Peluang dan Tekanan Geopolitik
Di tengah menguatnya kerja sama militer Rusia dan India melalui perjanjian RELOS, Indonesia berada pada posisi yang tidak terlibat langsung, namun tetap berada dalam lingkar dampak strategisnya. Letak geografis Indonesia yang berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik menjadikan setiap perubahan dinamika militer di kawasan sebagai faktor yang tidak bisa diabaikan.
Dengan terbukanya akses Rusia ke Samudra Hindia melalui India, intensitas aktivitas militer dan logistik di jalur laut strategis diperkirakan meningkat. Jalur ini terhubung langsung dengan perairan Indonesia, terutama melalui selat-selat vital seperti Malaka, Sunda, dan Lombok. Dalam konteks ini, Indonesia berpotensi menghadapi peningkatan lalu lintas militer kekuatan besar di sekitar wilayahnya.
Situasi tersebut menuntut kesiapan yang lebih tinggi dalam menjaga kedaulatan maritim. Indonesia tidak hanya berhadapan dengan tantangan keamanan tradisional, tetapi juga risiko meningkatnya gesekan antar kekuatan besar yang beroperasi di kawasan yang sama.
Di sisi lain, RELOS juga mempertegas tren baru dalam geopolitik global, yakni munculnya pola kerja sama fleksibel antarnegara tanpa keterikatan pada satu blok tertentu. India, misalnya, tetap menjalin kemitraan erat dengan Amerika Serikat, namun pada saat yang sama memperdalam hubungan strategis dengan Rusia.
Pendekatan ini memiliki kemiripan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Namun, dinamika global saat ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap negara-negara untuk menentukan posisi semakin menguat, terutama di tengah rivalitas antara Barat dan kekuatan non-Barat.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi ujian dalam menjaga keseimbangan. Di satu sisi, terbuka peluang untuk memperluas kerja sama dengan berbagai pihak tanpa harus terikat secara eksklusif. Namun di sisi lain, risiko terseret dalam kompetisi kekuatan besar juga semakin nyata.
Selain aspek keamanan, RELOS juga berpotensi berdampak pada sektor ekonomi, khususnya terkait stabilitas jalur perdagangan dan distribusi energi global. Peningkatan aktivitas militer di jalur laut strategis dapat memengaruhi keamanan pelayaran dan biaya logistik, yang pada akhirnya berdampak pada perekonomian nasional.
Dalam jangka panjang, perkembangan seperti RELOS menunjukkan bahwa kawasan Indo-Pasifik, termasuk perairan di sekitar Indonesia, semakin menjadi arena perebutan pengaruh global. Kondisi ini menuntut Indonesia untuk tidak hanya bersikap reaktif, tetapi juga proaktif dalam merumuskan strategi nasional yang mampu menjaga kedaulatan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada.
Dengan demikian, meskipun tidak menjadi bagian dari perjanjian RELOS, Indonesia tetap berada di garis depan dampak geopolitik yang ditimbulkannya, baik sebagai negara kepulauan strategis, maupun sebagai aktor penting dalam menjaga stabilitas kawasan.
Risiko Meningkatnya Militerisasi Kawasan
Perkembangan perjanjian RELOS, penguatan pakta AUKUS, serta konsolidasi QUAD menunjukkan terbentuknya pola baru dalam lanskap keamanan Indo-Pasifik. Di satu sisi, negara-negara Barat memperkuat kehadiran militernya di kawasan. Di sisi lain, Rusia memperluas jangkauan strategisnya melalui India, sementara China terus meningkatkan ekspansi kekuatan lautnya.
Kombinasi dinamika tersebut menciptakan konsentrasi kekuatan militer yang semakin padat di sekitar wilayah Indo-Pasifik, termasuk di jalur-jalur strategis yang beririsan langsung dengan Indonesia. Dalam konteks ini, kawasan tidak lagi sekadar ruang perdagangan global, tetapi juga menjadi arena kompetisi kekuatan besar yang semakin terbuka.
Implikasinya, potensi eskalasi konflik di kawasan meningkat, meskipun belum tentu mengarah pada konfrontasi langsung. Kehadiran berbagai kekuatan militer dalam radius yang relatif berdekatan meningkatkan risiko salah perhitungan atau insiden tak terduga di laut.
Bagi Indonesia, kondisi ini menempatkan wilayah perairannya sebagai bagian dari “zona lintasan” kekuatan besar. Jalur-jalur laut strategis yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan global juga berpotensi menjadi ruang manuver militer, yang pada akhirnya menuntut kewaspadaan lebih tinggi dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan nasional.[]